| Sabtu, 28 Mei 2005 | PANTURA |
Setiap Pagi Disiram Lantunan Ayat Al-Quran Siswa SMPLANTUNAN ayat-ayat suci Al-Quran tiap pagi menggema di bumi Kota Tegal. Sejuk dan meresap sampai ke relung hati. Ternyata, gema ayat-ayat itu bukan berasal dari para santri di masjid, mushala, pondok pesantren, atau tempat bacaan Al-Quran lainnya, melainkan terpancar dari balik tembok sejumlah SMP negeri. Tidak banyak orang tahu, ribuan siswa-siswi SMP sebelum mengikuti pelajaran resmi mulai pukul 07.00, tiap pagi meluangkan waktu 10-15 menit untuk membaca huruf hijaiyah itu. Hening dan bening terasa menyusup dari sela-sela tembok sekolah. Ada sejumlah SMP di Kota Tegal yang muridnya tiap pagi melakukan tadarus. Di antaranya SMP 2, SMP 7, SMP 10, dan SMP 1. Kota Tegal memang bukan dikenal sebagai Kota Santri, namun kegiatan itu bisa jadi merupakan embrio dari kemungkinan munculnya predikat sakral itu. Kenapa bisa begitu, karena murid SMP yang masih begitu belia telah memiliki kesadaran beragama cukup tinggi. Pada saat murid nderes (tadarus) Al-Quran, para guru tetap mengikuti kegiatan mulia itu dengan saksama. Di ruang guru mereka tak bersuara. Hanya tangan mereka sibuk menyusun mata pelajaran yang harus diberikan setelah siswa selesai tadarus. Lalu, kegiatan apakah yang diisi siswa yang kebetulan beragama non-Islam? Kepala SMP 2 Drs Asroruddin yang juga Ketua Musyawarah Kerja Kepala SMP mengatakan, para siswa-siswi non-Islam tetap mengikuti kegiatan yang sama dengan cara membaca kitab agamanya. "Jadi, 500 lebih murid kami tiap pagi secara otomatis memulai pelajaran dengan melakukan ibadah terlebih dahulu," tuturnya. Masukan Orang Tua Asroruddin mengaku, pada awalnya kegiatan itu diadakan sepekan sekali, yakni Jumat pagi. Program itu mulai dikenalkan ketika dia menjabat Kepala SMP 7. Namun dengan mempertimbangkan berbagai masukan, terutama dari orang tua murid dan arahan dari Kepala Dinas P dan K Drs Machful, kegiatan itu dilakukan setiap pagi sebelum murid mengikuti pelajaran. Pagi hari begitu murid datang, mereka sudah diadang guru yang berbaris rapi di depan sekolah. Setelah bersalam-salaman mereka masuk ke kelas. Tanpa dikomando mereka mengambil kitab Al-Quran yang sudah tersedia di kelas masing-masing. Murid tak bisa beralasan tak bisa mengikuti upaya pembinaan mental spritual itu hanya dengan mengatakan tak kebagian Al-Quran. "Sebab, saat ini kami memiliki 500 lebih kitab cadangan yang berasal dari sumbangan orang tua. Kitab itu disimpan di rak khusus di luar kelas. Terus terang, kami dibanjiri bantuan kitab suci tersebut," kata Wakil Kasek SMP 2 Agus Subekti. Menurut Asroruddin, untuk menjaga keselarasan pembacaan, sejumlah murid kelas III yang dinilai memiliki kemampuan lebih dalam membaca Al-Quran ditugasi memimpin pembacaan. Demikian pula bagi siswa yang beragama non-Islam. Karena ada pengatur, gema yang keluar beraturan dan tetap indah didengar telinga. Dia mengatakan, hasil kegiatan itu berdampak positif. Murid seolah-olah berpacu untuk mengikuti pelajaran agama. Bagi murid yang merasa masih pas-pasan dalam membaca, mereka secara sadar menyempurnakan diri dengan mengikuti pelajaran mengaji secara ekstra di luar sekolah. "Alhamndulillah, dari kegiatan itu, tak terasa banyak melahirkan bibit santri dan santriwati yang sudah khatam membaca Al-Quran," ujarnya. (Nuryanto Aji-19n) |