logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 28 Mei 2005 OLAHRAGA
Line

Forki, antara Prestasi dan Organisasi

Oleh : Wahyudin Noor Aly

KEBERHASILAN Kartika Eka Ikawati merebut tiga emas dalam kelas yang berbeda, yang sekaligus pemegang best of the best dalam Kejurnas Karate Yunior Piala, Mendagri tahun 2004 lalu, seolah menjadi "tamparan" bagi Federasi Olahraga Karate-do Indonesia (Forki) Jawa Tengah. Betapa tidak? Di tengah kebekuan organisasi, karena belum juga ada pembentukan kepengurusan baru setelah pengurus lama habis waktunya, salah seorang atletnya mampu berprestasi cemerlang dengan mengharumkan nama daerah serta Pengda yang membawahinya ke pentas nasional.

Sebagai sebuah organisasi olahraga yang berusia cukup tua - lahir 10 Maret 1964 di Jakarta - Forki seyogyanya sudah matang dalam berorganisasi, termasuk dalam reorganisasi setiap kali pengurus lama habis masa jabatannya. Dengan demikian roda organisasi tetap berjalan, sekaligus pembinaan terhadap atlet pun berkesinambungan. Sehingga lahirnya atlet macam Kartika Eka Ikawati, merupakan buah dari proses pembinan tersebut. Bukan semata-mata karena bakat alam dan karena ketekunan si atlet semata, tanpa "campur tangan" pengurus.

Terbukti di kelas senior, atlet kita belum ada yang berprestasi membanggakan. Seperti halnya di event PON yang sudah beberapa kali atlet pulang dengan tangan hampa. Bandingkan waktu kepengurusan terdahulu, atlet kita berjaya menyumbangkan medali emas.

Pembenahan dalam kepengurusan Forki Jateng nampaknya menjadi hal yang sangat mendesak, pengingat Pekan Olah Raga Daerah (Porda) Jateng sudah di ambang mata. Dalam Anggaran Dasar Forki Pasal 16 disebutkan, ''Masa bakti Pengurus Daerah Forki adalah empat tahun yaitu masa dihitung sejak Musda memilih dan membentuknya sampai ditutupnya Musda empat tahun kemudian. Nah, kalau kepengurusan yang lalu sudah habis masa tugasnya, mengapa tidak secepatnya dibentuk kepengurusan baru yang lebih serius dalam menangani cabang olahraga keras ini?

Event Porda yang menjadi tolak ukur prestasi daerah dalam bidang olahraga ini, merupakan ajang mengukur gengsi daerah. Selain itu juga menjadi alat ukur kesiapan masing-masing Pengda cabang olahraga. Melalui event inilah prestasi olahraga Jawa Tengah ke depan dipertaruhkan, termasuk cabang karate, karena hal ini berkaitan dengan atlet yang akan mewakili provinsi dalam Pekan Olahraga Nasional (PON) yang akan datang.

Seperti diketahui, Porda merupakan salah satu program rutin yang diamanatkan dalam Musyawarah Olah Raga Daerah (Musorda) di samping penataan organisasi, baik di tingkat KONI kabupaten/kota, maupun penataan organisasi di pengurusan kecabangan (Pengda). Sebuah keputusan yang cerdas, jika penataan organisasi menjadi prioritas dari pengurus KONI yang baru. Karena dalam Musorda beberapa waktu yang lalu, masih banyak KONI kabupaten/kota dan Pengda yang belum mengadakan musyawarah. Padahal musyawarah adalah esensi dari sebuah organisasi, hal ini berkaitan dengan mandat, legalitas pengurus dan proyeksi organisasi ke depan.

Program Organisasi

Tentunya sebagai salah satu bagian dari keluarga besar Forki, rasanya penulis "malu", manakala Forki disebut sebagai organisasi yang belum memenuhi ketentuan organisasi yang baik. Apa sebetulnya yang terjadi di tubuh Pengda Forki? Sebagai sebuah organisasi yang besar dengan sederet pengurus yang 'bonafide' rasanya tidak masuk akal kalau Forki tidak mampu melaksanakan Musda. Akan tetapi itulah kenyataannya, sudah dua periode penulis menjadi pengurus cabang Forki kabupaten tetapi belum pernah Pengda Forki mengadakan Musda.

Porda, penataan organisasi dan prestasi, merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan erat dalam dunia olahraga. Ibarat komoditas dalam dunia perdagangan bebas, produk unggulan suatu barang ditentukan oleh pabrik yang memproduksi barang tersebut.

Barang bermutu biasanya dihasilkan oleh pabrik yang manajemennya bagus dalam tingkat persaingan yang tinggi. Jarang sekali pabrik yang amburadul dan tingkat persaingan yang rendah menghasilkan produk yang baik. Kalaupun ada, itu hanya kebetulan saja.

Analog dengan dunia usaha, olahraga pun mirip. Atlet yang berprestasi biasanya dihasilkan oleh organisasi yang mempunyai program yang jelas dan tingkat kompetisi yang tinggi. Organisasi olahraga yang modern sanggup mencetak atlet unggulan secara berkesinambungan. Namun ada juga organisasi yang jelek bisa melahirkan atlet unggulan, hanya saja sifatnya temporer.

Biasanya atlet yang demikian bukan dihasilkan oleh pembinaan yg terencana, akan tetapi karena bakat alam yang dimiliki oleh atlet itu sendiri. Seperti halnya Kartika Eka Ikawati. Ketika ia masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanak (TK), sudah mulai terlihat bakat kepandaiannya.

Ketika suatu malam, orang tuanya membangunkannya hanya untuk memainkan ''Kata'' di depan penulis dan Bambang KP yang kebetulan guru bapaknya Kartika. Anehnya, sambil menangis Kartika kecil bisa memainkan ''Kata'' dengan cukup baik. Hal semacam ini sangat jarang sekali ada.

Di mana seorang anak perempuan seusia dia saat itu dibangunkan mendadak dari tidurnya dan langsung menuruti perintah sang guru yang kebetulan bapaknya sendiri, Susnadi Akbar. Akan tetapi yang jelas, apa pun persoalannya, insan perkaratekaan harus secepatnya bermusyawarah untuk menumbuhkembangkan prestasi Kartika-Kartika baru dan mengembalikan prestasi ke kancah nasional. Melakukan Musyawarah Daerah, merupakan jalan satu-satunya.

Karena mandat kepengurusan Forki yang ada sekarang sudah habis masa jabatannya, sehingga kepengurusan yang sekarang, tidak berhak mengambil keputusan maupun kebijakan atas nama organisasi. (28)

- Penulis adalah Ketua Umum Pengcab Forki Kabupaten Brebes


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA