| Sabtu, 28 Mei 2005 | WACANA |
Surat PembacaSimpanglimakuKetika ada wacana untuk membuat lapangan Simpanglima Semarang bertingkat, saya kaget luar biasa dan berkomentar: "Ada-ada saja". Sebagai ilmuwan barangkali wajar kalau ingin membuat perubahan dari kotanya, apalagi beliau doktor arsitektur. Kemudian wacana ini mendapat tanggapan dari anggota Tim Penyusun Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan Simpanglima. Mereka mengatakan peninggian akan mengurangi estetika. Barangkali dari sisi teknis semua pendapat dapat dibenarkan. Tetapi saya sebagai rakyat biasa yang kebetulan bergelut di bidang ilmu sosial, berpendapat belum waktunya mengubah kawasan tersebut. Yang perlu diketahui para pembuat kebijakan, Simpanglima adalah potret keadaan ekonomi bangsa yang masih semrawut. Pada hari Minggu makin banyak PKL yang berjualan, ini di luar pedagang kambuhan yaitu yang jualan pakai mobil. Tim justru harus memikirkan bagaimana menata para pedagang agar tertib sehingga dapat meningkatkan PAD. Kalau kawasan itu dibuat proyek akan membuat pedagang sengsara. Saya justru ingin mengetuk hati Bpk Wali Kota untuk membuat pengawasan khusus di Simpanglima, sehingga rakyat mencari tambahan hidup dengan dukungan Pemkot. Sebagai gambaran saya usul agar di depan Ramayana tidak dibuat parkir sehingga persis di bundaran keadaannya tidak ruwet. Sedang bendi wisata agar berpangkalan di Sanggar Pramuka. Jadi pada hari Minggu khusus tidak diperkenankan mobil berada di kawasan tersebut. Demikian tanggapan saya yang masih menginginkan adanya ruang bernapas dan bersantai di hari Minggu. Parmanto SH MHum Jl Meranti Raya 301, Semarang *** Cintaku ke BRI Saya nasabah BRI sejak 20 tahun lalu. Meski tabungan tidak banyak, tetapi saya percaya dan cinta apalagi juga sering menggunakan jasa.BRI. Namun rasa cinta saya ternoda dengan peristiwa yang tidak mengenakan hati. Tanggal 12 Mei 2005 sekitar pukul 08.00 wib, saya ingin parkir di halaman BRI Patimura Semarang. Saya sudah 3 hari parkir di situ dan baru mengambil sore hari sekitar pukul 16.30. Mungkin saya rnenyalahi aturan yaitu paling lambat pengambilan kendaraan pukul 15.00. Waktu saya sedang memarkir kendaraan, seorang satparn menegur dan mengusir saya secara kasar. Dia mengatakan: "Ibu keluar dan sini karena saya lihat sudah 3 hari parkir sampai sore. Di sini bukan tempat parkir". Saya mencoba mengiba: " Ya nanti siang saya ambil Pak". Tetapi dia bilang:" Tidak bisa. Pokoknya ibu keluar". Hati saya sakit, padahal saya parkir tentunya membayar walau bukan kepada dia. Alangkah baiknya, bila dia memberi teguran secara sopan dan lebih manusiawi. Sejelek-jeleknya saya, bukan juga nasabah BR1 yang cukup lama dan setia. Tolong BRI jangan nodai cinta saya. BRI adalah bank milik rakyat kecil, harus dekat dengan hati rakyat, pedulilah kepada rakyat. Sri Utari Depoksari Dlm II/3 Tlogosari, Semarang *** Tolong, PT Askes Saya sebagai peserta Askes merasakan pelayanan Askes makin membaik. Namun sayang sampai saat ini tetap belum sesuai dengan namanya, yaitu asuransi kesehatan. Peserta Askes tidak mendapat pelayanan sesuai jangka waktu premi asuransi, tapi atas dasar kepangkatan (golongan). Contoh, saya PNS Gol III/b, masa kerja 32 tahun. Andai rawat inap, jatah kamar untuk Gol III tidak memadai dengan premi yang dipotong dari gaji . Sementara untuk sarjana yang baru beberapa hari bekerja ibaratnya, apalagi sudah eselon III sehingga otomatis masuk Gol IV, akan mendapat pelayanan yang memadai. Terus terang saya iri hati. Hendaknya Askes jangan berdasarkan golongan, namun lamanya menjadi peserta seperti asuransi lain. Kalau berdasarkan golongan, ya... sungguh apes karena sampai pensiun pun dengan masa kerja hampir 38 tahun saya tetap di Gol III. Ini berbicara tentang hak sebagai peserta asuransi yang sudah lama, apakah adil. Sudah transparan? Apalagi sekarang lagi zamannya subsidi kesehatan. Bisa saja kartu pesrta terbagi menjadi tahapan. Misal kartu Askes untuk PNS dengan masa kerja 0 s.d 10 tahun berwarna hijau. Kemudian 10 s.d 20 tahun warna kuning, 20 tahun lebih warna merah. Bagaimana pengaturannya, saya yakin pejabat Askes lebih pintar dan profesional. Mohon perhatian yang berkompeten, dengarkan suara orang kecil, berikanlah haknya dan yang tegakkan keadilan. Wati Sudarwanto Binagriya Blok A, Jl Kencur 6, Pekalongan *** Budidaya Katak Melihat sulitnya lapangan pekerjaan, saya ingin membuka lapangan pekerjaan atau setidaknya membimbing mereka yang ingin berwiraswasta. Saya tertarik mengembangkan budidaya katak hijau dengan harapan dapat membuka lapangan pekerjaan di lingkungan sekitar. Bagi pembaca yang tahu mengenai seluk-beluk pembibitan, penjualan dan segala hal tentang budidaya tersebut, mohon menghubungi saya di 081327043590. Agung Priyo Handoko Jl Ampera 6 Sidareja, Cilacap *** Pilkada dan Pemerasan Beberapa oknum baik resmi mewakili partai maupun organisasi lain berusaha mengganjal seorang kandidat bupati Kendal. Bermula dari upaya win-win solution yang gagal, kemudian ada oknum pimpinan partai/anggota DPRD yang meminta Rp 1 miliar dengan komitmen partainya mendukung kandidat tersebut. Ada pula oknum LSM yang minta Rp 600 juta dengan komitmen tidak akan mencari-cari kesalahan kandidat. Bukankah hal ini merupakan bentuk pemerasan?. Namun anehnya mereka tidak merasa malu, sebaliknya justru dengan bangganya melakukan manuver politik untuk mengganjal kandidat tersebut. Bahkan oknum tersebut berteriak demi alasan moral dan perubahan. Lalu, moral yang mana yang hendak dia bawa kalau diawali dengan perbuatan seperti itu. Sama saja dengan mencuci pakai air comberan, ya malah kotor dan bau kan? M Taufiqurochman Sukorejo Rt 4/Rw I Sukorejo, Kendal *** Info Kesehatan Saya ingin menulis pengalaman mengatasi penyakit. Istri saya sakit sejak 1983 selama 3 hari berturut-turut tidak bisa tidur. Kemudian saya bawa ke dokter spesialis tapi tidak ketemu penyakitnya hingga terpaksa berobat ke luar negeri tahun '85, '86. Tahun '86 penyakitnya bertambah, yaitu sakit di perutnya disertai muntah berak, tensi dan HB drop. Dokter yang menangani mengira ada gangguan pada kandungan, tapi ternyata pada otak kecilnya. Pada 1988 dia saya bawa ke Kwangco untuk operasi mengambil tumor di otak kecilnya. Persoalan tidak selesai, karena kambuh dan berobat lagi ke Beijing pada tahun 1992 untuk dioperasi lagi. Namun kambuh lagi dan tahun 1995 dioperasi di Shanghai atas saran dokter yang mengoperasi sebelumnya. Tetapi pada tahun 1996 waktu kontrol, bukannya tumornya mati malah timbul cairan di pangkal otak. Terpaksa saya mencari pengobatan alternatif karena tim dokter mengatakan umur istri saya paling lama 3 bulan. Untung saya menemukan suplemen yang terbuat dari tumbuh-tumbuhan yang bisa mengatasi sulit tidur, makan tersedak danlainnya. Ternyata hasilnya bagus, penyakit istri saya hilang dan ini tetap sehat. Saya ingin memberi informasi pengobatan yang cukup manjur itu kepada masyarakat yang senasib secara gratis. Saya ingin bisa membantu orang yang sedang tertimpa musibah gangguan kesehatan. Hidayat Wibisono Jl Tengger Gg VI/62, Semarang |