| Sabtu, 28 Mei 2005 | NASIONAL |
Perseteruan PSIS Yunior dengan Apacinti BerlanjutSEMARANG-Perseteruan antara PSIS Yunior dengan Apacinti Yunior diperkirakan akan berkepanjangan, kendati kubu Apacinti sudah resmi minta maaf kepada PSIS di Stadion Citarum, Rabu lalu (25/5) pada lanjutan Kompetisi Liga Remaja U-18 Piala Suratin Grup D. Dalam insiden tersebut, balas dendam tidak hanya dilakukan oleh suporter PSIS Yr di luar stadion (tribune). Tapi, di dalam lapangan juga ada penganiayaan yang dilakukan oleh pemain PSIS terhadap Heri Tri Wibowo. Pemain tuan rumah yang dicurigai adalah Imam Yulianto. Striker dengan nomor punggung sembilan itu diduga dengan sengaja mengoleskan balsem ke wajah stoper lawan itu, ketika pertandingan babak kedua baru berjalan satu menit. "Kami belum pernah melihat pemain sepak bola membawa balsem ke tengah lapangan. Kami menduga ada faktor kesengajaan mencederai Tri Wibowo. Itu sudah direncanakan sebelumnya," ujar Manajer Tim Apacinti Kusnadi, kemarin. Saat itu pula, stoper yang mengenakan kostum bernomor punggung empat ini langsung terkapar di tengah lapangan. Dia mengerang kesakitan akibat kelopak matanya kemasukan krim panas tersebut, sehingga tidak bisa melanjutkan pertandingan. Menurut Kusnadi, sampai kemarin penglihatan Tri masih terganggu. Akibatnya, dia belum bisa mengikuti latihan bersama timnya. "Kalau ulah seperti itu terus dibiarkan, bisa-bisa pemain masuk ke lapangan sambil membawa celurit. Yang jelas, orang tua pemain tidak terima atas penganiayaan ini. Cedera mata yang dialami anaknya cukup serius. Tadi pagi (pagi kemarin, Red.) Tri Wibowo dibawa ke RS William Booth," tandasnya. "Kami masih menunggu hasil pemeriksaan di rumah sakit. Hasilnya akan kami laporkan ke Komdis PSSI Jateng, mengingat penganiayaan itu ada unsur kesengajaan karena sudah direncanakan sebelumnya," jelas Manajer Sport Apacinti, Agung Wahono M Hum. Partai Usiran Dalam kondisi yang masih memanas sekarang, maka partai usiran untuk melanjutkan sisa waktu pertandingan putaran pertama yang dimainkan pagi ini di Stadion Kridanggo Salatiga tanpa penonton, bakal dijaga ketat. Partai usiran pagi ini merupakan buntut dari kericuhan di Lapangan Ngadirejo Pabelan, 15 Mei lalu. Pertandingan dihentikan oleh wasit M Lazi pada menit ke - 56, sehingga pertandingan pagi ini hanya akan berjalan 24 menit. Untuk sementara Apac unggul 1-0. "Pertandingan ini sudah diambil alih oleh Pengda PSSI. Tetapi keamanan sudah kami siapkan cukup banyak, yang merupakan gabungan dari Polres Kabupaten Semarang dan Salatiga," jelas panitia pertandingan, Drs Musarodin. Musarodin yang juga penasihat teknik Apacinti melihat dengan jelas saat Imam mengoleskan balsem ke wajah Heri. "Saat mengoleskan, Imam lepas dari pandangan wasit (Hadirin AS Spd, Red.). Saat itu kedua pemain tidak sedang berebut bola," Pelatih PSIS Yr Ashadi tidak tahu-menahu tentang kejadian tersebut. Di dalam tim pun tidak ada yang menyuruh Imam melakukan hal tersebut. Apalagi, pertandingan Rabu (25/5) lalu berjalan lancar. Karena itu, Ashadi akan menanyakan kebenaran kabar itu kepada Imam. "Kami tidak tahu kejadian tersebut. Jika ingin protes atau melaporkan ke Pengda PSSI, itu hak mereka. Kami tidak bisa melarangnya," terangnya. Ashadi berharap pertandingan lanjutan pagi ini berjalan lancar tanpa ada aksi balas dendam. Sebab, kedua tim masih akan bertemu lagi di beberapa kejuaraan, di antaranya Popda antar-SMA. Kebetulan, Kabupaten Semarang diwakili oleh SMA Pabelan yang mayoritas diisi oleh pemain Apacinti. Dia tidak ingin aksi balas dendam itu berlanjut. "Mudah-mudahan tidak ada apa-apa di pertandingan lanjutan nanti. Kami tidak ingin terus-terusan terjadi aksi balas dendam," tandasnya. (C16, H13-22) |