| Sabtu, 28 Mei 2005 | NASIONAL |
Putri Indonesia ke Miss UniverseMemandang Artika dalam Kontroversi
AJANG pemilihan wanita cantik, cerdas, dan berkepribadian saat ini sedang berlangsung di Bangkok, Thailand. Kegiatan pemilihan Miss Universe itu diikuti 81 peserta dari 81 negara. Mereka tidak saja mewakili negara yang dikenal menganut paham kebebasan tetapi juga mewakili Malaysia, Mesir, dan beberapa negara Islam lainnya. Hal itu bukan tanpa pertimbangan. Ada banyak keuntungan yang bisa diperoleh dari keikutsertaan mereka. Minimal mereka akan membawa nama negara dan menjadi salah satu promosi untuk memajukan dunia pariwisata. Pemilihan kali ini menjadi sangat menarik bagi masyarakat Indonesia karena keikutsertaan Putri Indonesia Artika Sari Devi sebagai salah seorang peserta. Jika selama ini Putri Indonesia yang dikirim ke ajang Miss Universe hanya sebagai peninjau, kali ini betul-betul menjadi peserta. Seperti yang diduga banyak pihak, sorotan tajam pro-kontra pun kembali bermunculan. Front Pembela Islam menentang dan bahkan meminta agar pemerintah memanggil kembali Artika. Atau kalau memang tetap berkeinginan menjadi peserta, jangan mengalungkan syal bertuliskan Indonesia di dadanya. Protes yang diperdebatkan adalah penggunaan swimsuit serta berkunjung ke pabrik bir. Meski protes bermunculan, bukan berarti tidak ada yang mendukung kegiatan itu. Antara lain dari mantan menteri pemberdayaan perempuan yang juga Ketua DPP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa. Tokoh ini mendukung pengiriman Artika ke ajang pemilihan Miss Universe. "Sejak menjadi menteri pemberdayaan perempuan, saya tidak pernah mempermasalahkan ajang Putri Indonesia karena perekrutannya berdasarkan proses kualitatif,íí ujar Khofifah seperti dikutip sebuah tabloid. Proses kualitatif yang dimaksud adalah tiga B, yaitu beauty (cantik), brain (cerdas), dan behavior (kepribadian) yang juga menjadi kualifikasi di ajang Miss Universe. Pemilihan Putri Indonesia mulai diselenggarakan sejak 1992 oleh Yayasan Putri Indonesia yang didukung penuh perusahaan kosmetik Mustika Ratu. "Kala itu, Indira Soediro terpilih menjadi Putri Indonesia yang akan dikirim untuk mengikuti Miss Universe. Sayang, rencana itu gagal. Ketika kami pamit dengan Ibu Negara, tidak mendapat persetujuan," tutur Wardiman Djojonegoro, Ketua Yayasan Putri Indonesia. Salah Persepsi Sebetulnya, sejak 1992 yayasan itu telah menjadi pemegang lisensi Miss Universe, yang berarti mempunyai hak untuk mengirimkan wakilnya. Kegagalan kembali terjadi ketika Alya Rohali menjadi Putri Indonesia 1996. Setelah terpilih pada 17 Mei 1996, dia dikirim menjadi wakil Indonesia dalam pemilihan di Amerika Serikat. Komentar tajam bermunculan dari berbagai pihak yang intinya menentang kontes yang dianggap merendahkan harkat wanita. Karena protes begitu gencar, kehadiran Alya ke kontes itu hanya sebagai peninjau. "Penggunaan swimsuit dan anggapan adanya pengukuran alat vital menjadi masalah yang selalu diperdebatkan," ujar Alya. Kehadirannya sebagai peninjau telah membuka wawasannya dan mengetahui sistem penilaiannya. "Tidak ada sesi pengukuran alat vital, memang yang mau diukur apanya. Kalau mengukur lingkar pinggang, pinggul, dan besar cup memang dilakukan karena dibutuhkan untuk membuat baju." Munculnya pro-kontra membuat pihak yayasan sampai 2004 selalu berpikir ulang jika akan mengirimkan juaranya ke Miss Universe. Akan tetapi ketika terjadi reformasi besar-besaran pada 1998, nilai yang berkembang di Indonesia juga berubah. Konsep yang dibuat sejak yayasan mendapat lisensi mulai diterapkan. Hingga akhirnya mulai 2005, YPI secara resmi mengirimkan pemenangnya ke lomba Miss Universe. Ragu Artika, Putri Indonesia 2004, resmi dipilih menjadi wakil yang dikirim ke Bangkok, Thailand. Ketika gadis itu menerima tugas, dia merasa tidak percaya diri. Rasa ragu mampukah dia bersaing di ajang itu, apakah bahasa Inggrisnya, pakaiannya, dan tariannya sudah bagus, selalu ditanyakan Tika -panggilan akrab Artika- kepada ibunya, Poppy Dyah Retnowulan, ataupun pengurus yayasan. "Karena itulah selama sebulan Tika dikarantina, dia mendapat pelajaran mulai dari bahasa, pengetahuan, hingga kepribadian," ujar ibu Tika. "Bekal selama sebulan mengikuti pendidikan, insya Allah akan membantu Tika selama mengikuti kontes di Bangkok." Selain itu, tutur Poppy, putrinya meminta untuk dibawakan baju khas Indonesia, yaitu kebaya bernuansa Bali rancangan Anne Avantie untuk dibawa ke kontes. "Pada prinsipnya, Tika nggak suka baju yang terbuka. Dia memilih kebaya, tentunya selain memiliki warna khas juga tertutup." Duta Pariwisata Kontroversi masalah ini sebetulnya tidak perlu terjadi andai samua pihak melihat sisi positif. Malah, lanjut Khofifah, Miss Universe bisa membantu memperbaiki nama Indonesia sama halnya dengan diplomasi di bidang olahraga. Sementara itu Wardiman lebih menekankan, keikutsertaan ini merupakan upaya mempromosikan Indonesia. "Seandainya Artika mendapat salah satu predikat, misalnya miss smile, miss tourism, atau predikat lain, itu merupakan propaganda untuk negeri ini," ucapnya. Ternyata, keinginan tersebut setidaknya sedikit menjadi kenyataan. Hingga Jumat kemarin, SMS Tika kepada Suara Merdeka mengabarkan, meskipun dia satu-satunya peserta yang mengenakan baju tertutup, selalu mendapat pertanyaan dan decak kekaguman para kontestan lain. "Saya sampai malu, setiap kali saya mengenakan kebaya, banyak kontestan lain ataupun panitia yang meminta foto bersama. Kebaya menjadi sangat populer di kontes ini," katanya. Menyebut Miss Universe, kurang lengkap jika tidak menyebut kontes Miss World. Dua ajang yang sama-sama memperebutkan wanita tercantik dunia dengan kategori penilaian yang hampir serupa. Tentu ada hal yang sedikit berbeda, ujar Wardiman, yaitu Miss World sedikit komersial dibandingkan dengan Miss Universe. Sejauh mana perbedaan itu, orang awam sangat sulit membedakannya. Namun ketika menyebut Miss World, orang akan ingat Titi DJ. Artis, pengarang lagu, dan penyanyi itu pernah terlibat pada kontes Miss World di London pada 1983. Bila Indira Sudiro, Alya Rohali, dan Artika dikirim oleh sebuah yayasan resmi maka Titi berangkat dengan sebuah kenekatan. "Bayangkan, di Indonesia saja saya belum pernah ikut kontes semacam itu yang pada waktu itu dilarang oleh Pemerintah Indonesia," ujar Titi ketika itu. Keikutsertaannya di kontes karena adanya tawaran dari Andy Nurhayati, salah seorang produser film. Andy menilai, Titi memiliki paras yang unik dan menarik. Wanita ini memiliki jalur khusus untuk menyertakan Titi pada ajang kontes kecantikan dunia itu. Titi bertekad mencari pengalaman baru sehingga tawaran itu langsung dia sanggupinya. Dia berangkat tanpa persiapan matang. Kala itu Titi tak masuk final. Pengalamannya yang membanggakan ketika berada di London berubah menjadi rasa panik dan bingung. Berita keikutsertaannya dibeberkan media massa. Dia diberitakan sebagai kontestan ilegal dan melanggar norma susila. Jika di dunia ada dua kontes ratu kecantikan, sejak 2005 di Indonesia juga ada dua kegiatan yang hampir serupa. Putri Indonesia yang ada sejak 1992 diadakan oleh Yayasan Putri Indonesia mendapat dukungan penuh dari Mustika Ratu. Sementara itu, Miss Indonesia yang digelar mulai 2005 diketahui diselenggarakan oleh RCTI dan didukung perusahaan kosmetik Sari Ayu Marta Tilaar. Ketika kontes itu digelar, Managing Director RCTI Sutanto Hartono menyebutkan, tidak ada kontroversi antara Miss Indonesia dan Putri Indonesia. Acara yang rencananya juga diadakan tiap tahun itu memiliki jalur berbeda. Putri Indonesia akan naik ke Miss Universe, sedangkan Miss Indonesia akan ke Miss ASEAN.(Soesetyowati-14dj) | ||||