| Sabtu, 28 Mei 2005 | SEMARANG |
Setiap Siswa SMA Dapat Dana Ujian Rp 22.500
SEMARANG-Siswa tingkat SMA yang mengikuti ujian nasional (UN) 2005 akan mendapat dana dari Pemerintah Pusat sebesar Rp 30.570 per siswa . Kepala Dinas P dan K Jateng Drs Suwilan Wisnu Yuwono MM mengungkapkan hal itu, kemarin. Menurut dia, dari alokasi awal sebesar Rp 30.570 akan dikurangi untuk kegiatan sub rayon, rayon, dan kegiatan lain setiap siswa SMA, MA, SMA LB, dan SMK akan mendapatkan dana sebesar RP 22.500 yang diserahkan kepada sekolah yang bersangkutan untuk membiayai ujian mata pelajaran bahasa Indonesia, bahasa Inggris, dan matematika mulai 30 Mei-1 Juni mendatang. "Biaya penyelenggaraan ujian nasional 2004/2005 sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Pusat yang diberikan dalam bentuk block grant dan dibebankan pada daftar isian pelaksana anggaran (DIPA) Dirjen Dikdasmen Depdiknas," ungkap dia di Kantor Dinas P dan K Jateng. Sebaliknya, ujar dia, siswa SMP, MTs, dan SMP LB akan mendapat dana Rp 17.500 yang diberikan kepada sekolah. Total dana yang diterima Dinas P dan K Jateng sebesar Rp 30. 972. 177.000 untuk keseluruhan kegiatan dari tingkat provinsi hingga tingkat sekolah. Tapi persoalannya, dana tersebut hingga saat ini masih dalam proses pencairan di Departemen Pendidikan nasional (Depdiknas). "Kami minta pemerintah daerah bisa menalangi terlebih dahulu kalau hingga pelaksanaan UN dana tersebut belum bisa cair. Sebab, rincian anggarannya jelas dan pasti akan mendapatkan," ungkapnya. Ditinjau Mendiknas Dalam acara terpisah, Menteri Pendidikan Nasional Prof Dr Bambang Sudibyo MBA melarang adanya pungutan kepada siswa dalam pelaksanaan ujian nasional 2005. "Kamu ditarik biaya untuk ujian nasional nggak. Berapa harus bayar kepada sekolah ?" tanya Mendiknas sembari menghampiri Robertus (14) siswa kelas III A SMP Maria Goretti yang sedang mengerjakan soal-soal bahasa Jawa dalam ujian sekolah, Kamis (26/5). Mendiknas mengungkapkan, dari tinjauan ke sejumlah sekolah di Bandung, Banten, dan Semarang tidak menemukan adanya pungutan. Kalau ada sekolah yang memungut untuk ujian nasional, pihaknya meminta Pemerintah daerah untuk menindak. Kepada para siswa di SMPN 2, SMP Muhammadiyah 3, SMA 2, SMP-SMA Agus Salim Semarang dia mengungkapkan, ujian nasioal bisa digunakan untuk memetakan kualitas pendidikan di tanah air. Dia berharap siswa giat belajar karena hanya kerja keras kualitas sumber daya manusia Indonesia bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia. "Maklum, saat ini, indeks pembangunan Indonesia saat ini menduduki urutan ke-112 dari negara-negara di dunia." (H7-36) |