logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 28 Mei 2005 SEMARANG
Line

Warga Keluhkan Kondisi Jembatan Kartini

SEMARANG-Kondisi fisik jembatan Kartini yang melintang di atas sungai Banjirkanal Timur sungguh memprihatinkan.

Jembatan kayu selebar 3 meter yang menghubungkan Jalan Barito Kelurahan Rejosari dan Jalan Medoho Kelurahan Sambirejo itu, permukaannya banyak yang bolong.

Nyaris semua aspalnya terkelupas. Di sepanjang badan jembatan sekitar 15 meter itu, lubang-lubang ditutup dengan potongan kayu papan sekedarnya. Keadaan jembatan itu, tentu membahayakan para penggunanya.

Padahal ribuan pejalan kaki dan pengendara roda dua setiap hari melintas di atas jembatan itu. Pengguna jembatan itu bukan hanya warga dari kedua kelurahan.

Para ''penglajo'' bersepeda motor dari Tlogosari, Bangetayu, Mranggen, Demak dan Purwodadi yang bersekolah dan bekerja di pusat kota juga suka menggunakannya dibandingkan melalui Jalan Majapahit. Terjadinya antrean kendaraan sekitar pukul 07.00 dan 16.30 merupakan pemandangan biasa sehari-hari.

Wahyuni, warga Medoho Permai mengeluhkan kondisi itu. Hampir setiap hari dia melewati jembatan itu untuk mengantar anak-anaknya sekolah di daerah Pancakarya. Menurut dia, jembatan itu sudah tidak layak dilewati.

"Sepeda saya lebih dari tiga kali terperosok di lubang jembatan. Dulu malam-malam, tetangga saya juga pernah jatuh di jembatan itu, karena ban motornya terpeleset sewaktu melindas bantalan kayu yang besar," katanya.

Keluhan serupa dilontarkan Hartini. Warga Perumnas Tlogosari yang menggunakan jembatan itu untuk mencapai tempat kerjanya di Jalan Gajah Mada juga memprihatinkan kondisi jembatan. Dia menilai kepedulian pemerintah kota patut dipertanyakan, mengingat tidak adanya upaya perbaikan atau pemeliharaan.

Sementara itu, Lurah Sambirejo HM Ali Faizin SH menyatakan keberadaan jembatan itu sangat dibutuhkan masyarakat. Dia mengaku sering menampung keluhan warganya perihal kondisi jembatan. Apalagi jembatan itu merupakan jalan tembus alternatif ke Masjid Agung Jawa Tengah yang sudah dipergunakan untuk kegiatan keagamaan. "Saya pernah mengadu kepada DPU, cuma belum ada tindak lanjutnya," tandasnya.

Lurah Rejosari Untung Imam S ST juga menegaskan, jembatan Kartini sangat vital bagi kehidupan sosial dan perekonomian masyarakat.

Pihaknya saat ini juga sedang menunggu realisasi pembuatan jembatan baru yang informasinya pernah disampaikan secara lisan oleh pihak kecamatan. Hal itu terkait masalah sosialisasi kepada PKL di wilayahnya yang akan direlokasi, apabila jembatan baru memang jadi dibangun.

Kedua lurah itu sama-sama ingin agar Jembatan Kartini segera diperbaiki pemerintah kota. Selama ini, upaya perbaikan hanya bersifat tambal sulam dan dilakukan secara swadaya oleh warga sekitar.

Biayanya dipungut dari para pengendara bermotor yang melintas. Padahal ini justru memicu masalah baru, karena menimbulkan ketidaknyamanan pengguna jembatan. (aim-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA