| Sabtu, 28 Mei 2005 | EKONOMI |
Investasi Jiwasraya Tak Langgar AturanSEMARANG-Manajemen PT Asuransi Jiwasraya menyatakan investasi pada repo saham yang selama ini dijalankan telah memenuhi proses sebagaimana lazimnya (normal business practice). Investasi tersebut dilakukan untuk mendapatkan hasil investasi yang optimal. Hal itu dikemukakan Direktur Utama Jiwasraya Herris B Simanjutak dalam keterangan pers tertulis yang diterima Suara Merdeka, kemarin. Herris mengklarifikasi dengan adanya pemberitaan mengenai dugaan korupsi di 16 BUMN, termasuk Jiwasraya. Herris yang didampingi Direktur Keuangan Indrastono Sukarno menambahkan bahwa investasi dalam bentuk Repo Saham merupakan praktik bisnis yang lazim dilakukan. ''Perlu kami sampaikan bahwa apa yang kami lakukan tidak melanggar ketentuan investasi yang telah ditetapkan pemerintah seperti tertuang dalam Keputusan Menteri Keuangan No 424/KMK.06/2003 tentang Kesehatan Keuangan Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi,'' jelas Herris. Indrastono mengatakan investasi Repo Saham sebesar Rp 845 miliar tersebut tentunya telah mempertimbangkan aspek kehati-hatian, keamanan dan hasil yang optimal. ''Dengan pertimbangan tersebut kami yakin tidak melanggar ketentuan pemerintah, apalagi melakukan korupsi seperti yang diduga selama ini,'' ucap Indrastono. Lebih jauh Indrastono menjelaskan bahwa investasi Repo Saham telah dilakukan Jiwasraya sejak dua tahun lalu. ''Investasi ini merupakan jangka pendek dengan jangka waktu 3-9 bulan dengan hasil 14-16%, dan semua saham yang diinvestasikan terdaftar dalam LQ45 dan saham-saham blue chip (unggulan),'' papar Indrastono. Herris mengakui pemberitaan tentang adanya dugaan korupsi di tubuh BUMN tersebut mempengaruhi citra Jiwasraya. ''Bisnis kami berkaitan dengan trust (kepercayaan). Itu sebabnya kami perlu segera memberi penjelasan,'' jelas Herris. Tahun lalu Jiwasraya mampu meraih premi Rp 1,516 triliun, naik Rp 437 miliar dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,079 triliun. Aset perusahaan juga meningkat Rp 664 miliar dari Rp 2,752 triliun menjadi Rp 3,416 triliun. Kinerja keuangan yang cukup menggembirakan ini, menurut Herris juga ditopang oleh meningkatnya investasi yang dilakukan perusahaan. Investasi tahun 2004 mencapai Rp 3,097 triliun atau naik Rp 661 miliar dari tahun sebelumnya sebesar Rp 2,436. (G2-59) |