logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 28 Mei 2005 EKONOMI
Line

Pengamat Pesimistis Asumsi APBN Perubahan Terpenuhi

JAKARTA- Pemerintah dinilai terlalu optimistis dalam memberikan asumsi makro pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) tahun 2005. Hal itu menyimpan ketidakyakinan akan terpenuhinya asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) yang diajukan pemerintah. Penilaian tersebut dikemukakan Analis pasar uang dari Currency Management Group Farial Anwar dan pengamat ekonomi dari CidesUmar Juoro di Jakarta, kemarin.

Menurut Farial asumsi dengan realisasi APBN seringkali tidak akurat. Jika dilihat dari dua atau tiga tahun lalu, selalu ada revisi (APBN). ''Jika memaksakan dengan mempergunakan asumsi saat ini, pemerintah terlihat tidak belajar dari pengalaman. Angka inflasi 5,5 persen terlalu rendah dan tidak realistis mengingat dalam triwulan ketiga 2005 tingkat inflasi dalam negeri telah mencapai angka 7-8 persen,'' jelas dia.

Dalam raker dengan Panitia Anggaran Kamis (26/5) lalu, pemerintah dalam APBNP mengajukan asumsi-asumsi makro di antaranya pertumbuhan ekonomi mencapai 5,4%, tingkat inflasi 5,5% dan suku bunga SBI-3 bulan 6,5%. Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diharapkan mencapai Rp 8.600.

BI juga memprediksi tingkat inflasi selama tahun 2005 berada di kisaran 7-8%, naik dari target pemerintah sebelumnya yakni antara 5-7%. Tingginya tingkat inflasi, menurut BI, disebabkan oleh dampak kenaikan BBM tahap kedua yang sudah merata, maraknya kegiatan ekonomi akibat investasi asing, dan momentum pemulihan ekonomi yang berindikasi pada tingginya inflasi. Farial mengungkapkan, nilai tukar rupiah saat ini sangat sulit diprediksi. Hal ini sangat tergantung pada skenario yang dijalankan pemerintah, apakah positif atau negatif.

Skenario positif, menurut dia, ditandai dengan sikap pemerintah yang memberi rasa optimis bagi masyarakat dan dunia usaha melalui penegakan hukum. Selain itu, pemerintah yang menciptakan iklim kondusif bagi masuknya investasi dan tumbuhnya proyek infrastruktur secara tidak langsung menambah capital inflow. Dengan skenario ini, rupiah dapat diprediksi menguat hingga Rp 8.500-9.000 per dolar AS. (bn-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA