| Jumat, 27 Mei 2005 | WACANA |
tajuk rencanaLiverpool, Melawan Kemustahilan dengan Etos Kerja- Salah satu prestasi fenomenal sepak bola Indonesia dicatat sekitar setengah abad silam, ketika Kiat Sek dkk mampu menahan Uni Soviet 0-0 dalam babak pertama Olimpiade Melbourne 1956. Pertahanan total dengan keberanian bermain habis-habisan menjadi kunci keberhasilan, sekalipun dibayar mahal dalam partai ulangan. Anak-anak asuhan Toni Pogacnik yang sudah ''habis'' secara fisik, harus menyerah 0-4 dari tim yang akhirnya meraih medali emas. Sampai sekarang kiprah di Australia itu menjadi kenangan manis yang amat historis. Apalagi ada bumbu strategi permainan dan perjuangan sengit sebelum tumbang. Kekalahan, dengan demikian tak selamanya harus membuat muram. Begitu jugalah pelajaran yang didapat usai menyaksikan partai final Liga Champions 2005. - Dalam pertandingan di Ataturk Olimpiyat Stadium, Istanbul, Kamis dinihari WIB kemarin, kita disuguhi sebuah kemustahilan. Sejauh ini, drama yang paling memberi pelajaran tentang etos bertanding dalam Liga Champions adalah final 1999 di Stadion Nou Camp Barcelona. Dua gol dalam injury time membuat Manchester United membalikkan keadaan dari tertinggal 0-1 menjadi unggul 2-1 atas Bayern Munich. Kiper Peter Schmeichel pun sampai harus berada di daerah pertahanan lawan. Bukti betapa mereka ingin memanfaatkan peluang sekecil apa pun dengan daya serang maksimal, tak sekadar optimal. Semangat seperti itu membawa hasil menggembirakan, yang membuat kualitas drama partai ini begitu tinggi. Ternyata, tak lama kemudian muncul duel pamungkas yang lebih dramatis. - Enam tahun kemudian di Istanbul, Liverpool yang telah tertinggal 0-3 dari AC Milan mampu membalikkan keadaan, setelah sebelumnya berhasil menyamakan skor 3-3 sampai perpanjangan waktu berakhir. Steven Gerrard cs unggul 3-2 dalam adu penalti, untuk merebut Piala Champions yang kelima kalinya setelah 1977, 1978, 1981, dan 1984. Penta campeone terasa amat indah, karena didapat melalui duel pamungkas yang layak disebut sebagai a final to remember. Gelar kali ini merupakan yang pertama setelah format kejuaraan diubah menjadi sistem liga. Turnamennya pun tak lagi bernama Champions Cup, tetapi Champions League. Konsekuensi dari penyelenggaraan Liga Champions adalah ditampungnya tim-tim yang bukan juara liga untuk berpartisipasi. - Tim asuhan Rafael Benitez ini berpartisipasi sebagai tim bukan juara liga. Pada musim kompetisi tahun ini, performanya di kancah domestik malah menurun. The Reds gagal masuk empat besar, yang merupakan batas keikutsertaan tim Inggris ke Liga Champions. Bahkan sampai saat ini belum diperoleh kepastian apakah mereka bisa mempertahankan gelar tahun depan, mengingat aturan UEFA hanya melihat status klub di kompetisi domestik, bukan di level Eropa. Namun siapa sangka, urutan kelima itu seakan sebuah isyarat Kota Liverpool akan kedatangan Piala Champions yang kelima buat mereka. Posisi itu juga seperti sebuah modal bagi terbentuknya semangat nothing to lose, yang justru memunculkan gempuran-gempuran hebat dan refleks prima pemainnya. - Penalti yang membuat skor imbang 3-3, didapat berkat ketenangan Xabi Alonso ketika menyadari bola mampu diblok Dida. Refleksnya hebat untuk mengeluarkan kecepatan penuh guna menendang bola kembali. Sepersekian detik dia bisa mendahului terkaman Dida. Tendangan itu akhirnya menghidupkan harapan para suporter yang nyaris sirna. Saat adu tendangan penalti, Jerzy Dudek yang sudah salah mengantisipasi bola yang dilepaskan Andriy Shevchenko, ternyata mampu membalikkan langkah secara luar biasa untuk memastikan timnya dinobatkan menjadi kampiun Eropa. Benar apa yang dikatakan pelatih Arsenal Arsene Wenger, secara mental Liverpool lebih diuntungkan daripada AC Milan yang baru saja kehilangan mahkota Liga Italia di partai-partai akhir. - Tetapi, tanpa keberanian Rafael Benitez memainkan pola terbuka, problema mental yang dihadapi lawannya tak bisa digedor habis. Memang ada sebuah saat ketika superteam kehilangan taji. Dampak kehilangan touch bagi tim itu bisa amat terasa saat final. Andai partai Indonesia melawan Uni Soviet dalam Olimpiade Melbourne 1956 tidak diselesaikan melalui duel ulangan pada keesokan harinya, melainkan dengan adu penalti, bisa jadi PSSI mengulang kasus Liverpool versus AC Milan atau Arsenal menghadapi Manchester United saat final Piala FA Sabtu malam lalu. Mungkin Maulwi Saelan bakal dikenang sebagai an Indonesian goalkeeper to remember. Adu tendangan penalti memang sering membuat tim dominan balik tertekan. |