logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 27 Mei 2005 WACANA
Line

tajuk rencana

Hemat Energi, Kita Jadikan Sebuah Gerakan

- Pemadaman listrik secara bergilir tak perlu, bila imbauan Perusahaan Listrik Negara (PLN) kepada masyarakat untuk menghemat pemakaian listrik bisa ditaati. Terjadinya pengurangan beban listrik pada saat perbaikan pipa gas yang menuju PLTGU Muara Karang dan PLTGU Tanjung Priok tak bisa dihindari. Pada saat itu terjadi pengurangan pasokan 500 MW dari PLTGU Muara Karang dan 1.100 MW dari PLTGU Tanjung Priok kepada jaringan koneksi Jawa-Bali. Karena itu, bila masyarakat mau menghemat pemakaian listrik, hingga tidak sampai mencapai beban maksimal, semua akhirnya akan merasakan manfaatnya, tidak perlu ada pemadaman listrik secara bergilir. Gerakan penghematan, kalau mau, sebenarnya bisa dilakukan.

- Justru hal itulah yang hendak ditekankan. Mengapa soal hemat energi tak segera dijadikan gerakan nasional. Tidak usah menunggu situasi mendesak, karena perbaikan pada infrastrukturnya mestinya sudah menjadi kesadaran menyeluruh. Menjadi kebiasaan dan itu sangatlah positif serta memberi manfaat besar. Tidak saja bagi PLN, tetapi juga bagi kepentingan masyarakat secara keseluruhan. Sebagai konsumen listrik, masyarakat punya hak untuk mengonsumsi atau menggunakan listrik berapa pun besarnya asalkan mampu membayar. Tetapi sungguh tidak tepat dan bijaksana, bila melihat masalah itu secara egoistis. Karena energi itu bukan tanpa batas. Jumlah pasokannya relatif terbatas dibandingkan dengan perkembangan permintaan dan kebutuhan masyarakat.

- Pada awal tahun 1990-an Indonesia pernah mengalami kelangkaan listrik. Pada waktu itu pertumbuhan ekonomi dan perkembangan sektor industri sempat terhambat karenanya. Keadaan seperti itu bukan tidak mungkin terulang kembali manakala jumlah pasokan tak mampu memenuhi permintaan secara nasional. Maka hendaknya disadari pasokan listrik merupakan sesuatu yang harus dimanfaatkan dengan lebih baik dan produktif. Bukan sekadar konsumtif, apalagi kalau disertai sikap boros dan seenaknya. Kalau diteliti di setiap rumah, terutama di kalangan masyarakat mampu, pastilah ada yang masih bisa dihemat. Kalau rata-rata setiap orang mampu menghemat 10 Watt saja, berapa banyak yang bisa didapat secara total. Pastilah akan sangat besar artinya.

- Sebagai sebuah gerakan, penghematan listrik sebaiknya menjadi kebiasaan. Misalnya kita tak pernah meninggalkan ruang kosong tanpa mematikan lampu. Jangan tertidur ketika TV belum dimatikan. Dan masih banyak lagi perilaku kurang efisien yang tampaknya kecil, namun akan sangat signifikan manakala dihitung secara keseluruhan. Di kantor-kantor pemerintah dan di perusahaan pun hal yang sama mesti dilakukan. Banyak cara dan pola yang bisa ditempuh. Teknologi pun bisa membantu gerakan penghematan itu. Hanya faktor manusianya tetap yang paling dominan. Kalau manusianya sudah sadar, segala sesuatunya akan lebih mudah dan gerakan penghematan, termasuk penghematan dalam pemakaian listrik, akan lebih efektif hasilnya.

- Gerakan penghematan merupakan bagian dari ujian kepedulian seorang warga negara. Karena hal ini lebih mengandalkan kesadaran daripada kewajiban yang dipaksakan. Bisa saja seseorang acuh tak acuh atau cuek, karena tidak akan langsung menerima akibatnya. Atau memang tak punya kepedulian terhadap orang lain atau kepentingan banyak orang. Baru setelah benar-benar kejadian akan menyesal mengapa tak dari dulu-dulu berhemat. Karena kebutuhan listrik yang makin meningkat seiring dengan kemajuan dan perkembangan ekonomi tak senantiasa diikuti oleh pertambahan pasokan secara memadai. Apalagi dengan bahan energi seperti minyak atau batu bara yang lama-lama akan habis. Ada alternatif bahan pengganti, namun tak ada pula yang menjamin kelangsungannya.

- Artinya, gerakan penghematan pemakaian listrik merupakan sesuatu yang sangat penting. Makin cepat dimulai akan makin baik. Tak perlu memikirkan orang lain dulu, karena akan lebih baik kalau segala sesuatunya dimulai dari diri sendiri. Gerakan penghematan merupakan sikap positif dan rasional ditinjau dari segala aspek. Ini bukan pengorbanan semata, karena apa yang dilakukan juga akan bermanfaat atau memberi kontribusi bagi setiap orang yang melakukan. Bangsa yang maju adalah bangsa yang memikirkan masa depannya. Bukan hanya berpikir untuk hari ini. Dalam konteks yang lebih makro kita memerlukan sustainable development. Kita tak boleh hanya memikirkan diri sendiri, karena itu harus pula disiapkan untuk anak cucu kita kelak.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA