| Jumat, 27 Mei 2005 | SEMARANG |
Sepak Terjang Tim Kampanye Cawali (2)Melaju dengan Dua NahkodaSUATU siang, di rumah beralamat Jl Sindoro 1, seorang lelaki paro baya menghampiri meja penerima tamu. Lelaki itu menuliskan nama, lalu melewati pintu. Sejenak kemudian, lelaki berpeci itu menyodorkan surat kepada salah seorang anggota tim kampanye pasangan Soediro Atmoprawiro-Ahmad Musyafir. Sembari tersenyum, tim sukses itu mengangguk. Katanya, "Kami tak bisa memberi janji, tetapi kami akan memprioritaskan perbaikan tempat ibadah di lingkungan Bapak." Sejak empat bulan lalu, bekas tempat usaha Soediro itu disulap menjadi sekretariat. Setiap hari, 50-100-an orang mendatangi kantor tim sukses yang satu ini. Macam-macam tujuannya, mulai dari mengajukan proposal, minta sumbangan, mendaftarkan diri menjadi relawan, saksi, hingga manawarkan aneka dagangan. Halaman rumah yang luas pun ditata agar dapat menjadi ruang bersama bagi tim sukses maupun tamu-tamu yang berdatangan. Sebuah tenda dipasang, lengkap dengan meja-kursi di bawahnya. Pemandangan di bagian dalam sekretariat tampak tak kalah "meriah". Hampir di setiap ruangan, sebuah papan tulis besar dipasang. Papan tulis itu memuat berbagai agenda tim sukses maupun pasangan Soediro-Musyafir, yang disusun per tanggal dan jam. "Road show sudah dilakukan sejak empat bulan lalu. Tim sukses akan mengoptimalkan masa sosialisasi dengan memasang spanduk, baliho, stiker, dan menggalang dukungan elemen masyarakat," papar Pradjoko Heryanto, Ketua Tim Sukses pasangan Soediro-Musyafir. Biduk Partai Demokrat yang mengusung Soediro-Musyafir terus melaju. Meski persoalan kepengurusan kembar masih bergayut, Pradjoko masih tetap dipercaya sebagai Ketua Tim Kampanye. Pradjoko mengakui, dualisme kepengurusan partai sedikit banyak mempengaruhi kader-kader partai di tingkatan akar rumput. Meski di bawah bayang-bayang dua nahkoda, biduk Partai Demokrat tetap melaju. Meski ada selisih paham, ada satu tujuan untuk mengusung kesuksesan Soediro-Musyafir menjadi wali kota dan wakil wali kota 2005-2010. Pradjoko menegaskan, hasil Kongres I Partai Demokrat di Denpasar lalu, tidak ada pecat-memecat pengurus partai. Dia justru curiga, ada konspirasi politik yang hendak menjatuhkan dirinya sebagai Ketua DPC Partai Demokrat. "Ada bukti-bukti bahwa manuver ini diprakarsai oleh mereka yang tidak puas dengan pencalonan Soediro-Musyafir. Pada saatnya nanti, saya akan membuka semua bukti itu," tandasnya. Optimisme serupa juga diungkapkan Sekretaris Tim Kampanye, Ngatmono. Dia mengungkapkan, kepastian siapa yang akan memimpin DPC akan diputuskan dalam Musyawarah Daerah (Musda) dan Musyawarah Cabang (Muscab). Siapa pun yang akan memimpin DPC nanti, kata Ngatmono, tidak akan mempengaruhi struktur tim kampanye Soediro-Musyafir. "Saat pembukaan kongres, Presiden SBY mengakui ada 78 DPD dan DPP kembar di tubuh Partai Demokrat. Tetapi hal itu tidak akan menghambat proses pencalonan wali kota," ungkapnya. Tim kampanye Soediro-Musyafir optimistis, mampu meraih 50+1 persen suara dalam pilkada, 26 Juni mendatang. Konstituen Partai Demokrat yang menyumbang 138.000 suara dalam pemilu legislatif lalu diharapkan mampu menyumbang 20% suara. Sementara Forum Rukun Tetangga (Foret) yang didukung ribuan simpatisan diharapkan menyumbang 10% suara, dan relawan menyumbang 25% suara. Saat ini, Tim Kampanye ini juga telah melatih 4.000 saksi dan menerima dukungan dari sejumlah konstituen partai lain seperti PDI-P, PKB, dan PPP yang bersimpati kepada Soediro-Musyafir. (Ninik Damiyati, Jamal Al Ashari/bersambung-36) |