logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 27 Mei 2005 KEDU & DIY
Line

Sudah 15 Hari Nelayan Kebumen Tak Melaut

KEBUMEN - Sudah sekitar lima belas hari para nelayan di sepanjang pantai selatan Kebumen, khususnya di Pantai Pasir, Karangduwur, dan Pedalen, tidak melaut. Saat ini memang sedang musim paceklik dan ombak laut pun cukup besar.

Menurut Parsino (42), nelayan di Pantai Pedalen Kecamatan Ayah, hanya sebagian kecil nelayan yang berani melaut atau kurang dari 10%. Mereka yang berhenti melaut, menyambung hidupnya dengan bercocok tanam, beternak, dan menekuni industri rumah tangga (nderes kelapa untuk dijadikan gula merah).

Sementara itu, bagi yang melaut pun hasilnya tidak seberapa. Bahkan sebagian besar nelayan enggan melaut karena pada hari-hari ini hingga pertengahan Juli, ombak laut diperkirakan masih besar dan ikan di lautan juga langka.

''Kami tak berani spekulasi. Apalagi biaya melaut dengan kenaikan harga BBM saat ini sangat memberatkan nelayan,'' jelas Parsino yang juga Ketua Tim SAR Nelayan Pantai Ayah.

Dia menuturkan, para nelayan yang melaut memang masih bisa menangkap udang jerbung dan ikan-ikan tertentu. Namun sayang, saat ini udang ekspor itu langka dan hasil tangkapan nelayan paling hanya 3-4 kilogram/hari.

Meskipun harga tiap kilogram Rp 50.000, biaya nelayan melaut, untuk bahan bakar dan sebagainya, per kapal bisa mencapai Rp 100.000.

Di sisi lain, nelayan harus berhitung cermat dengan risiko ketika melaut dengan gelombang besar tersebut. Kapal-kapal mereka acap kali rusak dihantam ombak sehingga terkadang hasil tangkapan ikan tidak sebanding dengan kerugian yang mereka tanggung untuk perbaikan kapal.

Perbaiki Kapal

Pihaknya juga mengeluhkan kenaikan harga BBM yang memberatkan nelayan. Sebab, saat ini BBM sampai di pantai berkisar Rp 2.650 per liter. ''Kami pilih istirahat sementara untuk memperbaiki kapal sambil menunggu musim ikan, sekitar Juli-Agustus,'' tandas Parsino.

Dia juga menyatakan memang beberapa hari lalu ada nelayan yang mendapatkan ikan kerapu raksasa dengan berat 160 kilogram. Harganya pun per kilogram Rp 28.000. Praktis dalam sehari, nelayan beruntung tersebut mendapat hasil Rp 3 juta lebih.

Sementara itu di Kebumen, saat ini terdapat sejumlah tempat pelelangan ikan (TPI). Komunitas nelayan yang terbesar ada di Pantai Pasir, yakni sekitar 800 orang, sedang terbesar kedua di Pantai Pedalen dengan 300 nelayan.

Belakangan ini bermunculan TPI yang dikembangkan Pemkab, seperti di Pantai Srati Kecamatan Ayah, Tanggulangin Klirong, dan Rowo Mirit.

Di tempat terpisah, Camat Ayah Tugiyono yang dihubungi kemarin membenarkan, saat ini para nelayan banyak yang berhenti melaut karena ombak besar dan mereka percaya bahwa bulan-bulan sekarang ini adalah musim paceklik sehingga tidak baik untuk melaut.

Menurut dia, pihaknya tetap memantau kehidupan nelayan yang melaut dan meminta Tim SAR nelayan selalu siaga mengantisipasi hal-hal yang tak diinginkan. Hingga saat ini, belum ada kejadiaan atau kecelakaan meskipun gelombang laut selatan sedang pasang. (B3-55m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA