| Jumat, 27 Mei 2005 | INTERNASIONAL |
Abbas Ingin Bush Penuhi Visi Dua NegaraWASHINGTON - Pemimpin Palestina Mahmud Abbas, Kamis kemarin, minta Presiden AS George W Bush ikut campur tangan dalam proses perdamaian Timur Tengah. Menurut Abbas, proses perdamaian bisa mengalami kerusakan akibat ''serangan'' Israel. Dalam beberapa komentar yang dikeluarkan menjelang pembicaraan pertamanya di Gedung Putih sejak terpilih sebagai presiden Palestina Januari lalu, Abbas mengatakan ketenangan di kawasan itu saat ini akan berakhir jika pembicaraan damai dengan Israel tidak dimulai. ''Presiden Bush mendukung tuntutan kemerdekaan kami, saat dia menjelaskan visinya tentang penyelesaian dua negara atas konflik Timur Tengah,'' kata Abbas dalam komentarnya yang disiarkan surat kabar Wall Street Journal. Dia menegaskan kembali dukungan Palestina bagi usul tersebut namun mengatakan: ''Tapi, ini juga pandangan yang diserang (Israel).'' ''Setiap hari Israel mengambil langkah yang merusakkan pandangan Presiden Bush dan secara efektif menghalangi penyelesaian dua negara atas konflik Israel-Palestina.'' Pemimpin Palestina itu menambahkan: ''Saya bersedia duduk bersama PM Israel (Ariel) Sharon dan memulai perundingan damai permanen. Bila saya bertemu dengan Presiden Bush hari ini, Saya akan meminta beliau memenuhi visinya tentang dua negara yang berdaulat, demokratis, dan hidup berdampingan secara damai dan aman.'' Terima Kasih Pada Bush ''Jika Presiden Bush masih yakin dan berpegang teguh pada pandangannya, seperti yang saya harapkan, dan jika PM Sharon meninggalkan penyelesaian sepihak, maka kami dapat bersama-sama membuat 2005 menjadi tahun perdamaian di Timur Tengah.'' Abbas menyoroti pembangunan permukiman Israel di Tepi Barat dan tembok pemisahnya, yang menurut pemimpin Palestina itu, membuat pengab kota-kota Palestina. Dia juga menuduh Israel berusaha membelah Jerusalem Timur dari sebagian Tepi Barat. Abbas menyatakan terima kasihnya kepada Bush atas usahanya menyebarkan demokrasi ke seluruh Timur Tengah namun mengatakan: ''Saya sekarang minta beliau membantu kami, lewat dialog dengan Israel, memenuhi cita-cita kemerdekaan kami.'' Menyoroti gencatan senjata yang telah berlangsung selama empat bulan, Abbas menjelaskan ''masa tenang ini akan segera berakhir jika pembicaraan perdamaian tidak segera di luncurkan. Jika kami menyelamatkan visi penyelesaian dua negara, evakuasi Israel dari wilayah Gaza harus dilihat sebagai langkah pertama''. ''Ini harus segera diikuti dengan langkah lainnya di Tepi Barat dan melanjutkan pembicaraan damai pada persetujuan damai permanen.'' Abbas mengatakan, banyak tindakan Israel bertentangan dengan sikap yang dirundingkannya yaitu bahwa negara Zionis itu akan kembali ke perbatasan tahun 1967, pembagian Jerusalem, penyelesaian masalah pengungsi Palestina, dan perjanjian damai permanen. ''Semakin banyak aksi sepihaknya (Israel) dilakukan, makin banyak negeri itu menghalangi jalan ke arah hasil akhir perdamaian dan merusak pandangan saya dan visi Presiden Bush.'' (ant-26) |