| Jumat, 27 Mei 2005 | INTERNASIONAL |
FBI Beberkan Pengakuan soal Penistaan Al-QuranWASHINGTON - Terungkapnya kasus penistaan al-Quran ternyata bermula dari pengakuan tahanan di penjara pangkalan AS Teluk Guantanamo, Kuba. Seorang tahanan mengaku tentara Amerika memang menggelontorkan al-Quran ke dalam toilet. Pengakuan tahanan itu dicatat dalam dokumen Biro Penyidik Federal (FBI) pada 2002 dan baru dipublikasikan Rabu lalu. Namun, Pentagon (Departemen Pertahanan AS) mengatakan, tuduhan tersebut tidak dapat dipercaya. Pengungkapan dokumen FBI itu dilakukan sepekan setelah pemerintahan Presiden George W Bush mengecam sebuah laporan majalah Newsweek edisi 9 Mei. Laporan tersebut menyatakan, para petugas interogasi AS di Guantanamo telah memasukkan kitab suci umat Islam itu ke dalam kakus. Penistaan al-Quran itu dilakukan untuk memancing para tahanan agar mau berbicara. Namun, Newsweek kemudian meminta maaf atas kekeliruan berita itu dan mencabutnya. Berita tersebut telah menyulut aksi protes di berbagai negara muslim. Di Afghanistan, 16 orang tewas dalam unjuk rasa memprotes penistaan al-Quran tersebut. Dokumen FBI itu bertanggal 1 Agustus 2002. Isinya adalah ringkasan pernyataan seorang tahanan dalam dua kali wawancara dengan dua agen khusus FBI. Nama tahanan dan agen tersebut dirahasiakan. Wawancara itu dilakukan sekitar akhir Juli 2002 di penjara Guantanamo. Penjara itu dibuat khusus untuk orang asing tersangka aksi terorisme. American Civil Liberties Union (ACLU) menyiarkan memo tersebut dan dokumen-dokumen lain FBI. Dokumen itu diperoleh dari pemerintah berdasarkan perintah pengadilan yang menerapkan UU Kebebasan Informasi. Perlakuan Keji ''Secara pribadi, dia tidak punya masalah dengan Amerika Serikat. Para penjaga di kamp tahanan itu tidak memperlakukannya dengan baik. Perilaku mereka keji. Sekitar lima bulan lalu, para penjaga memukuli tahanan. Mereka menggelontor al-Quran ke dalam toilet,'' tulis agen FBI itu. ''Tuduhan itu tak bisa dipercaya,'' kata Lawrence DiRita, juru bicara Pentagon tentang tuduhan penistaan al-Quran tersebut. DiRita mengatakan, militer AS telah menanyai tahanan itu pada 14 Mei. ''Pria itu sangat kooperatif. Dia menjawab semua pertanyaan, tetapi tidak membenarkan tuduhan yang direkam pada 1 Agustus 2002,'' kata dia. Namun dia segera menambahkan bahwa dia tak tahu apakah tahanan itu benar-benar mengakui kekeliruannya mengenai tuduhan tersebut. ''Tuduhan-tuduhan fantastis mengenai petugas kita yang sengaja menodai al-Quran untuk menggertak para tahanan tersebut sepenuhnya tak bisa dipercaya,'' kata juru bicara Pentagon itu. (rtr-ben-25) |