| Jumat, 27 Mei 2005 | BANYUMAS |
Bertangisan di PengungsianBUNYI kentongan bertalu-talu tertanda bahaya tiba-tiba menggema di Dusun Kalipagu, Desa Ketenger, Kecamatan Baturraden, kemarin pagi. Teriakan perangkat desa dan personel Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (Satlak PBP) terus terdengar. ''Keluar! Keluar! Keadaan bahaya, gunung meletus!'' Seluruh penduduk, pria dan perempuan, orang tua dan anak-anak, berhamburan keluar. Tikar, kasur, pakaian, dan hewan ternak pun mereka ungsikan. Mereka menuju ke lokasi terbuka, tak jauh dari rumah. Warga desa dari daerah bahaya itu menuju ke pos Satlak PBP terdekat. Dibantu personel Polres Banyumas, Brimob, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), ratusan warga desa itu dievakuasi ke tempat aman dengan berbagai kendaraan. Sebuah tenda pengungsi di lokasi aman langsung disesaki warga yang dievakuasi. Di tenda pengungsian, wanita dan anak-anak menangis ketakutan. Petugas kesehatan pun tak kalah sibuk. Mereka mendata pengungsi yang sakit dan merawat korban yang terluka. Dapur umum disiapkan Satlak PBP. ''Semua warga di daerah bahaya telah diungsikan. Tak ada korban jiwa. Hanya empat orang terluka terkena batu,'' kata personel Satlak PBP ketika melapor kepada Muspida Banyumas. Penanganan terhadap korban bencana letusan gunung di Desa Ketenger itu adalah simulasi dalam sistem informasi peringatan dini yang dipraktikkan jajaran Polres Banyumas bersama Satlak PBP. Simulasi serupa dilakukan di Windujaya (Kedungbanteng) dan Limpakuwus (Sumbang). Kapolres Banyumas AKBP Erwin Triwanto yang memimpin simulasi, kemarin, menyatakan kegiatan itu merupakan latihan bagi warga masyarakat di daerah rawan bencana. Dalam sistem itu, seluruh warga desa dilibatkan sejak awal. Kepada mereka dikenalkan tanda-tanda bahaya gunung yang akan meletus, seperti turunnya binatang dari hutan dan hasil pemantauan Badan Meteorologi dan Geofisika. Bila ada tanda bahaya, sejak dini diinformasikan ke masyarakat mulai dari tingkat waspada, siaga, hingga awas, termasuk evakuasi yang harus dilakukan masyarakat dan Satlak PBP. ''Bila sudah terlatih, jika sewaktu-waktu ada bencana alam, khususnya gunung meletus, mereka tahu bagaimana menyelamatkan diri sehingga tak ada korban jiwa. Semua berharap Gunung Slamet tetap slamet sesuai dengan namanya,'' tutur dia. (Sigit Oediarto-53) |