SUARA MERDEKA
 
INDEKS WACANA Kamis, 26 Mei 2005

- Ketika mengantar kepergian Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada Prof Dr Mubyarto, ada satu hal yang menggelisahkan. Akan matikah gagasan, konsep, dan pemikiran tentang ekonomi Pancasila yang hingga kini masih menjadi bagian dari perjuangan kita. Sebab, pencetusnya telah meninggal. Pak Muby, demikian dia biasa dipanggil, bukan hanya pencetus, melainkan juga pejuang yang gigih sejak dulu hingga sekarang.

- Hari-hari ini, begitu gencar kata "korupsi" mewarnai langit pikiran kita. Apakah itu bagi mereka yang termasuk dalam lingkaran pelaku, bagi aparat hukum dan badan-badan yang menangani, atau bagi kita yang secara langsung maupun tidak langsung dirugikan, dan kemudian terimbas rasa malu sebagai bangsa. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono secara berurutan dalam dua momentum penting menyinggung hal itu.

MENCERMATI konflik di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sekarang ini membuat orang awam seperti penulis menjadi bingung. Konflik semakin memuncak tetapi masih belum jelas dan semrawut. Layaknya selebritis saja, kalau bertengkar lebih suka dan bersemangat kalau dilihat publik. Yang satu bikin pernyataan, yang lain menanggapi. Yang satu bikin manuver dan yang lain kebakaran jenggot. Semua di blow up besar-besar di media massa.

INDONESIA telah kehilangan salah satu putra terbaiknya, yaitu Prof Dr Mubyarto. Beliau pergi untuk selamanya Selasa 24 Mei 2005 karena menderita penyakit paru-paru basah dan serangan jantung ringan.

ADA beberapa catatan terhadap maraknya praktik joki skripsi. Pertama, menunjukkan fenomena masyarakat yang lebih mengagungkan simbol formalitas. Ini merupakan cermin dari mentalitas masyarakat, termasuk kaum intelektual yang lebih menghargai gelar dibanding kualitas keilmuan.

BERBAGAI cara dan strategi ditempuh oleh mahasiswa dalam rangka menyiasati proses penyelesaian skripsi, walaupun, kalau dilihat dari segi etika dan moralitas akademik masih perlu diperdebatkan keabsahannya. Cara dan strategi tersebut, misalnya, mulai dari pendekatan interpersonal yang "lebih" pada dosen pembimbing maupun penguji,

Sebentar lagi pilkada secara langsung digelar di berbagai daerah. Celakanya, fenomena jor-joran dana untuk memenangkan calon menggejala di mana-mana. Si Fulan menyediakan Rp 10 miliar, si Anu nggak mau kalah dengan menggelontorkan Rp 15 miliar, dan si Itu menyiapkan Rp 20 miliar.

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA