logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 26 Mei 2005 NASIONAL
Line

Keteladanannya Patut Diwariskan


PENGHORMATAN TERAKHIR: Ketua Majelis Guru Besar, Prof Dr Ir Boma Wikan Tyoso MSc (berjas hitam) memberikan penghormatan terakhir, sekaligus melepas jenazah Prof Dr H Mubyarto dari Balairung Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, kemarin. (57t)

YOGYAKARTA- Ketua Majelis Guru Besar (MGB) UGM Yogyakarta Prof Dr Ir Boma Wikan Tyoso MSc berharap, keteladanan Prof Dr Mubyarto MA dapat diwariskan, terutama kepada putra-putri didiknya. Dengan demikian, jasa-jasa almarhum tetap berkelanjutan.

Hal itu disampaikan Prof Boma ketika melepas jenazah almarhum Prof Mubyarto dari Balairung UGM untuk dimakamkan di Pemakaman Keluarga UGM Sawitsari Yogyakarta, kemarin. Tampak melayat, antara lain, mantan wapres Try Soetrisno, Frans Seda, para mantan rektor UGM, dan segenap sivitas akademika.

Prof Boma yang mewakili Rektor Prof Dr Sofian Effendi MPIA (sedang di Belanda) mengatakan, almarhum merupakan sosok yang pantas diteladani, baik dalam kecakapan maupun dalam berperilaku sehari-hari. Dalam menjalankan kewajibannya, Prof Muby selalu bekerja dengan sungguh-sungguh.

Try Soetrisno merasa terkesan bersahabat dengan Prof Mubyarto, karena almarhum adalah ilmuwan pejuang yang bersemangat dan konsisten memperjuangkan cita-cita proklamasi, dengan mengangkat dan menyebarkan ekonomi kerakyatan.

Dia telah banyak jasanya pada negara ini dan diharapkan lahir Mubyarto-Mubyarto baru untuk terus konsisten membela dan menegakkan cita-cita proklamasi. Dia mengenal almarhum sejak tahun 1970-an.

Peti jenazah tiba di Balairung UGM tepat pukul 11.00, disambut perasaan haru setiap pelayat yang datang. Jenazah diserahkan oleh wakil keluarga, Drs Andi Anto Hidayat MSc (putra sulung almarhum), kepada pihak UGM.

Sebagai kepala keluarga, almarhum sangat mencintai keluarga dan senantiasa ingin selalu dekat dengan istri dan anak-anaknya. Sebelum wafat, almarhum masih tetap giat dan tekun menulis, baik untuk dipublikasikan di koran maupun untuk diterbitkan menjadi buku. Draf buku yang cukup lama ditulisnya dalam bahasa Inggris akan segera diterbitkan. Pada Sabtu (21/5) atau 3 hari sejak pertama mendapat serangan jantung saat jalan-jalan pagi, almarhum baru saja menyelesaikan koreksi naskah buku yang rencananya dijadikan bahan seminar nasional memperingati Hari Lahir Ke-60 Pancasila tanggal 3 Juni 2005.

Sedangkan selama hidupnya, Prof Mubyarto pernah menerima berbagai tanda jasa. Antara lain Anugerah Iptek (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) tahun 1971, Bintang Jasa Utama (Presiden) tahun 1994, Bintang Mahaputra Utama (Presiden) tahun 1997, Satya Lencana Pembangunan Koperasi (Presiden) tahun 1998, dan Bung Hatta Award (Universitas Bung Hatta) tahun 2001. (P12, sgt-29t)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA