| Kamis, 26 Mei 2005 | SEMARANG |
Produksi Minyak Mentah Ditarget 4.320.000 LiterGROBOGAN - Ketua KUD Widorokandang Kecamatan Gabus, Suhud, mengungkapkan, pada 2005 pihaknya menargetkan produksi minyak mentah dari sembilan sumur tua di Desa Bendoharjo, Kecamatan Gabus, Kabupaten Grobogan sekitar 4.320.000 liter dengan perkiraan produksi per hari sekitar 24.000 liter (150 barel). "Dari sembilan sumur tua yang diizinkan Pertamina, kami baru mengerjakan enam sumur. Yaitu, sumur nomor 38, 43, 39, 46, 12, dan 41. Sumur tersebut dalam proses pembersihan," kata Suhud di sela-sela acara pengiriman perdana minyak mentah sumur tua Bapo Gabus, Senin (23/5) kemarin. Pihaknya mengungkapkan, pengambilan dari sumur nomor 46 terpaksa dihentikan karena diperkirakan kisingnya bocor, sedangkan sumur nomor 41 berisi air berlebihan. "Dari enam sumur, hanya sumur nomor 12 yang bisa mengeluarkan minyak mentah," kata Suhud. Lebih lanjut dia mengatakan, yang menjadi kendala dalam mengelolaan sumur tersebut adalah kesulitan menembus batu cor. Karena itu, pihaknya akan mengubah teknisnya dengan menggunakan bor batu. Untuk memperlancar pekerjaan itu pihak KUD sudah mempersiapkan sarana penunjang, yakni dua mobil tanki dengan kapasitas 6.000 liter. Pada kesempatan itu, satu mobil tangki minyak mentah berkapasitas 6.000 liter baru-baru ini dilepas oleh Bupati H Agus Supriyanto SE untuk diberangkatkan ke Pusat Penampungan dan Pengelolaan (P3) Menggung, Cepu. Manajer KUD Widorokandang Sarwoedi mengatakan, pihaknya mendapat jasa pengangkatan dan pengangkutan minyak mentah Rp 252,9/liter. Ditanya soal proses pengangkatannya, dia menuturkan, pada awalnya blotong (minyak mentah bercampur air) di-timber atau diangkat dengan menggunakan teknologi sederhana. Setelah terangkat lalu disalurkan ke dalam bak. Di dalam bak tersebut antara minyak dan air dipisahkan. Kemudian blotong dicampur dengan tanah liat lalu diaduk-aduk sehingga mengeluarkan minyak mentah. "Minyak mentah itulah yang dijual ke P3 Menggung Cepu," katanya. Sebagaimana diketahui, sumber minyak di Kecamatan Gabus itu merupakan lapangan yang telah ditemukan dan dikembangkan mulai 1902. Hingga saat ini telah dibor 46 sumur. Statusnya merupakan lapangan nonaktif. Lapangan itu tidak berproduksi sejak 1932. (H3-56n) |