| Kamis, 26 Mei 2005 | SEMARANG |
Tertimbun Tanah, Seorang TewasJAMBU - Nasib malang menimpa Wagirin (30), warga Dusun Wonokasiyan, Desa Kebondalem, Kecamatan Jambu, Kabupaten Semarang. Dia tewas tertimbun tanah longsor, saat mengerjakan galian sedalam tujuh meter untuk pemasangan pipa air dari Tuk Umbul ke Pondok Miftahul Jannah milik Pujiono di Desa Bedono, Kecamatan Jambu, Selasa (24/5) sore. Dalam peristiwa itu, seorang warga bernama Anis (35) yang tinggal sekampung dengan Wagirin mengalami luka-luka serius di kepala dan sekujur tubuhnya. Pada Rabu (25/5), Anis masih dirawat di RSU Ambarawa. Seorang warga lainnya, Dahrudin (25), saat kejadian tersebut dapat menyelamatkan diri. "Jumlah pekerja ada 25 orang. Saat itu hanya tiga orang, yaitu Anis, Wagirin, dan Dahrudin yang berada di dalam galian sedalam tujuh meter dan lebar galian 80 cm itu," ujar Anis, kemarin. Anis juga menuturkan, dirinya tertimbun di dalam tanah selama lebih dari satu jam. Saat berada di dalam tanah, bapak berputra empat itu masih memegang cangkul dalam posisi berdiri. "Saya tertimbun sekitar dua meter. Saat itu kepala saya sakit sekali namun tidak sampai pingsan hingga para pekerja lainnya dapat mengeluarkan saya dari timbunan," papar pria yang masih terbaring lemah di rumah sakit tersebut. Pekerjaan pemasangan pipa air itu, lanjut dia, sudah dilakukan tujuh hari. Kejadian itu menimpa Anis dan kawan-kawan saat hendak memasang pipa paralon yang ketiga belas dengan ukuran panjang enam meter dan diameter enam inci. "Rencananya, ada ribuan pipa yang dipasang untuk mengalirkan air dari Tuk Umbul Kalibening ke Pondok milik Pak Puji. Namun pada Selasa (24/5), baru pipa yang ketiga belas," ujarnya. Berteriak Saat berada di dalam tanah, Anis hanya bisa berteriak meminta bantuan dengan mengucapkan takbir dan selawat. "Saya meneriakkan 'Allahu Akbar' beberapa kali saat merasakan tanah yang menimbun saya ini akan diangkat oleh teman-teman pekerja," ucapnya. Dia mengatakan, keselamatan dirinya tidak lepas dari perlindungan Allah SWT. "Saat itu saya kesulitan bernapas dan hanya bisa pasrah dan berdoa. Akan tetapi anehnya, saat di dalam tanah itu saya melihat sinar cahaya putih dan orang tua berjubah hitam," ungkapnya. Meski belum tahu akan dibayar berapa, Anis menganggap pekerjaan itu juga sebagai perjuangan di jalan Allah. "Karena untuk kepentingan pondok, saya tetap bekerja. Hitung-hitung untuk amal kebaikan," tandasnya. Zaitun (40), kakak Anis, menuturkan, semua biaya rumah sakit akan ditanggung Pujiono. (H14-56j) |