logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 26 Mei 2005 SEMARANG
Line

SMA Sultan Agung Gelar Shalat Gaib

  • Terkait Kematian Siswa di Senggigi

SEMARANG-Kematian siswa kelas 2-1 SMA Islam Sultan Agung 3 Semarang, Aditya Faisal (17) meninggalkan kesan mendalam bagi segenap komponen sekolah di Jalan Kaligawe Semarang itu. Untuk mendoakan arwah Aditya, segenap siswa dan guru SMA Sultan Agung 3 adakan shalat Gaib, Rabu (25/5).

Shalat itu dilaksanakan di musala sekolah. Beberapa siswa yang juga teman dekat almarhum terlihat menitikkan air mata. Setelah shalat gaib acara diteruskan dengan tahlilan.

Sebelumnya diberitakan, kunjungan siswa-siswi SMA Sultan Agung 3 ke Pantai Senggigi dalam rangka study tour. Menurut Kepala Sekolah SMA Islam Sultan Agung, M Muchlis H SPd tujuan study tour untuk memberikan pelajaran pada siswa tentang kebesaran Allah SWT melalui kegiatan di luar sekolah.

"Dengan adanya kegiatan ini diharapkan siswa dapat melihat langsung kebesaran Allah secara langsung, bukan hanya dari buku. Peristiwa meninggalnya Aditya merupakan musibah, bukan kesalahan siapa pun," katanya.

Kejadian itu berlangsung cepat. Saat Aditya tenggelam teman-temannya langsung memberitahu guru pembimbing dan selanjutnya tim SAR langsung turun tangan. Menurut Muchlis, Aditya termasuk anak yang pendiam. "Meski pendiam, dia mudah bergaul. Dia juga disenangi teman-temannya, karena suka menolong," kata Muchlis saat ditemui di kantornya.

Tiga hari sebelum kejadian, Aditya menunjukkan perilaku lain dari biasanya. Menurut wali kelas 2-1 Indah Mutmainah, Aditya menunjukkan sikap yang lebih manja dari biasanya. "Sebelumnya Aditya memang sangat dekat dengan saya. Bahkan saking dekatnya dia tidak memanggil bu guru kepada saya, tapi mami. Tapi tiga hari sebelum kejadian, dia menunjukkan sifat yang lebih manja lagi," katanya sambil menitikkan air mata. Teman-temannya pun sangat kehilangan dengan kepergian Aditya bahkan ada beberapa yang pingsan.

Senin pagi rencana awal rombongan study tour akan mengunjungi Pondok Pesantren Ihsanuddin. Namun terjadi perubahan rencana, karena pihak pondok pesantren menginginkan rombongan datang siang hari. Alasannya, ingin mengajak rombongan shalat Dhuhur berjamaah. Karena itu kunjungan ke Pantai Senggigi yang semula akan dikunjungi sepulang dari pondok pesantren mengalami perubahan.

Dari pihak orang tua Aditya, menurut Muchlis menganggap kematian anaknya merupakan takdir dari Allah SWT. "Orang tuanya menyampaikan terima kasih kepada sekolah, karena sudah mengupayakan secara maksimal segala sesuatunya. Selain itu mereka memintakan maaf atas semua kesalahan anaknya," katanya.

Untuk meringankan beban keluarga korban yang ditinggalkan, pihak sekolah memberikan bantuan sejumlah uang dan dari pihak biro perjalanan Dua Nirwana akan menguruskan asuransi. (lin-33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA