| Kamis, 26 Mei 2005 | KEDU & DIY |
''Belajar Mbecak'' di Alun-alunBARANGKALI tak ada satu pun orang tua yang mengharapkan anaknya kelak memiliki pekerjaan sebagai penarik becak atau sering disebut tukang becak, meskipun banyak bermanfaat bagi orang lain. Pekerjaan berat tapi halal ini hanya mengandalkan "otot". Karena itu, yang menekuni pekerjaan ini pada umum adalah mereka yang memiliki berbagai keterbatasannya karena tidak memperoleh keterampilan atau pendidikan memadai guna bersaing dalam belantara kehidupan ini. Meskipun demikian, dasar naluri anak mendorong mereka untuk mencoba apa saja yang dilakukan oleh orang dewasa atau orang tua. Begitu pula ketika mereka melihat tukang becak. Mereka pun ingin meniru apa yang dilakukan tukang becak itu. Hasrat untuk mencurahkan naluri sebagai "tukang becak" ini ditangkap oleh Agus Sulpriyanto, warga Banyutarung, Temanggung. Dia membuka usaha persewaan becak mini bagi anak-anak di alun-alun Temanggung. ''Ide ini muncul karena saya bingung kalau mau mengajak anak-anak rekreasi di Temanggung. Akhirnya setelah melihat persewaan becak mini di Badakan (tempat rekreasi di Magelang), saya tertarik untuk memiliki usaha becak mini sendiri di Temanggung,'' kata Agus, ayah dua anak ini. Ternyata usaha tersebut berjalan lancar dan hingga sekarang, ia memiliki sepuluh armada becak di Temanggung. Selain itu, ia juga mengembangkan becaknya di Magelang dan Salatiga. Jika dihitung secara keseluruhan, dia telah memiliki 33 buah becak. Becak-becak itu dibelinya per buah Rp 550.000 untuk yang berukuran kecil dan Rp 750.000 untuk ukuran sedang. Saat ini becak mini berukuran kecillah yang banyak ia miliki. Agus Sulpriyanto hanya sebagai majikan yang kadang-kadang saja menengok usahanya di alun-alun, sedangkan yang menjaga persewaan becak-becak itu adalah Wardiyono (15 th). Bocah lulusan SD asal Magelang ini dibayar 35% dari pendapatan sewa per harinya. ''Kalau hari biasa dapat uang sewanya antara Rp 20.000 - Rp 30.000. Namun pada hari libur bisa mencapai Rp 90.000. Yang paling besar kalau malam Minggu atau hari Minggunya, yakni Rp 150.000 - Rp 200.000,'' ujar Wardiyono. Sewa becak ini sebetulnya sangat murah. Hanya Rp. 2.000 untuk tiga kali putaran mengelilingi alun-alun pada hari libur, sedangkan hari biasa tarif diberlakukan sampai penyewa merasa puas. Anak-anak bisa menjadi "tukang becak" tetapi kalau belum bisa mengayuh pedal becak, Wardiyono siap untuk membawanya mengelilingi alun-alun Temanggung. Anak-anak tertarik mengemudikan becak ini karena modelnya yang kecil dan ringkas serta bisa bergaya, seolah-oleh sebagai tukang becak. Meski demikian, bagi anak-anak yang baru pertama kali mengemudikan becak mini ini terkadang masih terlihat kaku. Setelah dua tiga kali, mereka baru kelihatan "lincah" layaknya tukang becak. Di samping untuk disewakan sehari-hari mulai pukul 08.00, becak mini juga sering disewakan untuk acara ulang tahun ataupun disewakan untuk acara-acara pawai. Kalau untuk acara ulang tahun sehingga becak dibawa pulang ke rumah penyewa, ada tarif tersendiri. Selama ini, tarif untuk acara itu Rp 35.000 per jamnya. (Henry Sofyan-39m) |