| Kamis, 26 Mei 2005 | KEDU & DIY |
Politik Tanpa Etika Akan Merusak BangsaYOGYAKARTA - Praktik politik yang hanya mengandalkan kekuasaan, tanpa etika hanya akan merusak masa depan bangsa. Karena itu agar demokrasi bisa seiring dengan etika sosial, satu-satunya jalan adalah terwujudnya budaya demokrasi. Demokrasi tanpa dibarengi budaya demokrasi ibarat pelita tanpa minyak. Penegasan tersebut disampaikan Gubernur DIY Hamengku Buwono X ketika berbicara dalam Rapat Kerja DPD Partai Golkar DIY di Gedung Mandala Bhakti Wanitatama Yogyakarta, Selasa (24/5) lalu. Rapat diikuti kader Golkar serta dibuka oleh Ketua Umum DPP Partai Golkar Jusuf Kalla. Tampak pula Dewan Penasihat, Surya Paloh dan Ketua Korwil Jateng-DIY Muladi. Sultan dalam sambutannya mengajak seluruh komponen Golkar melakukan konsolidasi internal sekaligus mengomunikasikan etika politik dengan penuh rasa persaudaraan dan perdamaian yang menenteramkan rakyat. Dia berharap kondisi itu tercipta di tingkat elite maupun massa termasuk dalam pelaksanaan pilkada kelak. ''Jika terjadi konflik massa, apalagi sampai melibatkan sentimen primordial, akan membahayakan masa depan demokrasi. Ini merupakan jebakan awal ke arah disintegrasi dan otoriterisme ideologi kelompok,'' tandasnya. Menurutnya, prinsip politik yang harus dipegang menjelang pilkada, jangan sampai kembali ke sistem politik lama. Rakyat harus berani mengalihkan energi destruktif dari setiap perbedaan politik ke arah penyelesaian yang menjamin keberlanjutan konsolidasi demokrasi. Pada kesempatan itu dia menyinggung transisi politik yang irasional bisa berimbas pada praktik poklitik uang yang seakan nyaris tak terhindarkan dalam proses pilkada. Kultur mendewakan uang sebagai kendaraan pilkada hakikatnya tak tumbuh di atas etika demokrasi, tapi di atas kepentingan kekuasaan semata. Makna Sementara itu Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar, Jusuf Kalla, ketika membuka rapat kerja DPD Partai Golkar DIY mengatakan, menjadi pemimpin seperti bupati dan wakil bupati harus mengetahui keinginan rakyat. Mereka dipilih berdasarkan prestasi, akuntabilitas, kemampuan hingga track record. Kalla meminta calon bupati dan wakil bupati dari Partai Gokar mampu menjaga reputasi program, menjaga norma agama, budaya dan politik. Namun diakuinya hal itu mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan. Dia mengingatkan tujuan partai bukan untuk kemenangan pemilihan presiden, kemenangan pemilu. Menurutnya itu hanya salah satu cara untuk mencapai kemakmuran bersama. Di sela-sela raker, calon bupati dan wakil bupati Gunungkidul, Gandung Pardiman dan Untung Santoso serta calon wakil bupati Bantul, Sumarno menyampaikan ikrar siap menang dan kalah secara terhormat. ''Kami mempunyai jiwa yang besar. Terlepas dari kekurangan dan kelebihan, kami siap menang dan siap kalah,'' tandasnya. (D19-39) |