logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 26 Mei 2005 KEDU & DIY
Line

Populer Tak Berarti Mutlak Menang

MAGELANG - Ketidaktaatan para kader dan simpatisan terhadap keputusan partai menunjukkan bahwa pembinaan di partai tersebut tidak jalan. ''Elite partai memutuskan sendiri sedangkan akar rumput juga memiliki aspirasi sendiri,'' ungkap Drs Djatmiko, dosen Fisipol Universitas Tidar Magelang, Rabu kemarin.

Seperti diberitakan, pasangan calon wali kota dan calon wakil wali kota yang diusung PDI-P, H Fahriyanto dan Kol Inf (Purn) Drs Noor Muhammad MM mendapat ''suntikan darah segar'' setelah Forum Simpatisan Lintas Partai, Forum Bersama Suporter Magelang, dan Forum Lintas Sektoral mendeklarasikan dukungan terhadap pasangan calon tersebut.

Forum Simpatisan Lintas Partai terdiri atas kader dan simpatisan PKS, PPP, PAN, PDI-P, Partai Golkar, PBR, PNBK, Partai Demokrat, dan PKB. Sementara itu, Forum Lintas Sektoral terdiri atas Generasi Muda Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan Indonesia (GM FKPPI) dan Pemuda Panca Marga.

Sementara itu, Partai Golkar yang didukung PKS, PDS, PPP, dan PKB mengusung pasangan calon sendiri, yakni Brigjen TNI (Purn) H Bambang Prajuritno SH dan Drs H Sutjipto (Suara Merdeka, 25/5).

Menjawab pertanyaan wartawan, Djatmiko yang menjabat Purek III Universitas Tidar Magelang itu mengemukakan, ketidaksinkronan antara elite partai dan kader serta simpatisannya wajar terjadi termasuk saat pilpres beberapa waktu lalu.

''Hubungan pengurus partai dan massanya hanya terjadi saat pemilu. Setelah itu, antarmereka tidak ada lagi komunikasi politik. Jadi, dukungan yang disampaikan elite partai hanya merupakan dukungan di atas kertas. Itu tidak akan menjamin bisa mengikat kader dan simpatisannya pada saat pilkada,'' tandasnya.

Menginginkan Perubahan

Menurut pendapatnya, dari dua pasangan calon yang maju Pilkada Kota Magelang 27 Juni mendatang, H Fahriyanto yang mencalonkan diri untuk menjabat kali kedua lebih diuntungkan karena popularitasnya.

Namun, itu bukan jaminan mutlak untuk menang karena banyak juga anggota masyarakat yang menginginkan perubahan.

Madiyono S, kader Partai Golkar yang menandatangani deklarasi Forum Simpatisan Lintas Partai mengemukakan, alasan dirinya menandatangani itu karena pilkada memilih figur kepala daerah dan bukan anggota legislatif. ''Walau saya orang Golkar, tidak harus mengikuti keputusan yang diambil pengurus partai. Saya memilih sesuai dengan hati nurani,'' ujar mantan anggota DPRD 1999-2004.

Pertimbangan lain, selama lima tahun sebagai anggota DPRD sudah tahu kinerja H Fahriyanto. Ibarat sayur tinggal menambah jika kurang asin atau manis. Apalagi, dia didukung calon wakilnya, Noor Muhammad, dari kalangan intelektual yang juga sama-sama putra daerah. Mereka berdua bisa saling mengisi. ''Terus terang saya sebagai anggota masyarakat ataupun kader dan simpatisan lainnya tidak mau seperti membeli kucing dalam karung,'' tegasnya.

Sementara itu, Ketua Laskar Macan Tidar, Abdul Karim, menekankan, yang organisasinya lakukan memang menyimpang dari arahan DPC PKB. ''Alasan Laskar Macan Tidar mendukung H Fahriyanto karena unsur kedekatan dan dia orangnya bisa dipercaya.''

Perbedaan aspirasi antara kader/simpatisan dan keputusan partai, menurut keterangan Abdul Karim, merupakan bentuk demokrasi.

''Hasil musyawarah dengan teman-teman memang mendukung Fahriyanto karena mereka sudah kenal sangat dekat.'' (P60-39j)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA