logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 26 Mei 2005 EKONOMI
Line

Tembakau Boyolali Diminati Pabrik Rokok

BOYOLALI - Tembakau rajangan di Kabupaten Boyolali mempunyai keunggulan yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Keunggulan itu terletak pada sifat dan kondisi lahan yang mendukung untuk ditanami tembakau. Selain itu, panen lebih awal dibanding daerah lain dan mempunyai cita rasa khas dan disukai pabrik rokok.

''Karena itu, untuk menjamin jalur tata niaga yang lancar diperlukan adanya satu standar atau penyamaan persepsi baik mutu maupun harga sehingga saling menguntungkan petani, pabrikan dan pedagang,'' kata Drs M Mufti dari Direktorat Pengawasan dan Pengendalian Mutu Barang (PPMB)/Lembaga Tembakau Pusat Jakarta, kemarin.

Dia mengemukakan hal itu dalam pertemuan teknis tembakau rajangan Boyolali, di aula Hotel Puri Merbabu, Boyolali, kemarin. Acara tersebut dihadiri kelompok tani, pengusaha, dinas terkait dan tamu undangan lain.

Dia mengatakan, areal tembakau rajangan di Boyolali rata-rata 2.500 hektare. Tetapi untuk tembakau rajangan di Boyolali biasanya melebihi dari rencana program Intensifikasi Tembakau Rakyat (ITR) sampai lebih dari 200 %. Misalnya tahun 2003 rencana ITR areal 1.050 hektare tetapi realisasinya mencapai 2.252 hektare.

Produksi

Tahun ini tanaman tembakau rajangan Boyolali 520 haktare dengan produktivitas 0,77 ton/hektare dan produksi 400 ton. Sementara Kabupaten Semarang luas areal 100 hektare dengan produktivitas 0,50 ton/haktare dan produksi 50 ton.

''Saat ini tembakau rajangan Boyolali sudah selesai penanamannya. Ada informasi pabrik rokok besar tidak akan membeli tembakau rajangan Boyolali panen tahun 2005. Namun sebenarnya tembakau rajangan masih tetap dibutuhkan pabrikan,'' kata Mufti yang juga Ketua Lembaga Pengujian dan Sertifikasi Mutu Barang Surakarta/Lembaga Tembakau Cabang Jawa Tengah, Surakarta.

Sementara itu, Syamsuri, dari Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat (Balittas) Malang, mengungkapkan pada saat ini keberadaan komoditas tembakau mendapat tantangan eksternal maupun internal yang cukup besar.

Isu kesehatan, pemasaran yang tidak efisien, rendahnya adopsi teknologi oleh petani, degradasi lahan tembakau dan lain-lain, perlu mendapat perhatian serius.

''Tampaknya ke depan pengusahaan tembakau yang lebih bertanggung jawab terhadap masyarakat umum menjadi tuntutan yang tidak dapat diabaikan lagi selain harus efisien dan memenuhi selera konsumen,''katanya. (shj-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA