logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 21 Mei 2005 PANTURA
Line

Kerajinan Batok Kelapa

Dulu Dibuang, Sekarang Jadi Penopang

BATOK atau tempurung kelapa biasanya dibuang oleh sebagian besar orang, karena hanya buah dan air kelapa yang dibutuhkan. Paling banter, batok kelapa hanya bisa dimanfaatkan menjadi arang. Namun, ternyata batok kelapa yang dianggap limbah tak bermanfaat juga bisa mendatangkan uang puluhan juta rupiah.

Soetarko (40), warga Desa Wonopringgo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan adalah satu di antara orang yang membuktikannya dengan kreativitas, keuletan, dan kesabaran bisa mengubah segalanya.

Dari tangan Soetarko, batok kelapa yang sebelumnya dibuang bisa diolah menjadi berbagai barang kerajinan bernilai seni seperti tas, dompet, tempat handphone, bingkai foto, kotak tisu, hiasan dinding, dan hiasan meja.

Kerajinan batok kelapa tersebut bahkan nyaris tak pernah berhenti dipesan dari berbagai kota seperti Yogyakarta, Depok (Bogor), Jakarta, Tasikmalaya, dan Semarang. Tak heran, omzet dari kerajinan tersebut mencapai puluhan juta rupiah.Tidak kurang Rp 50 juta/bulan bisa diraup dari usaha mengolah batok kelapa. Jika dihitung biaya produksi, rata-rata didapat keuntungan bersih Rp 4-Rp 5 juta/bulan.

Soetarko mengaku merintis usahanya sejak sembilan tahun lalu, setelah diberhentikan dari tempat bekerjanya di salah satu perusahaan mebel di Kota Pekalongan. Berbekal pengalamannya dalam mengolah kayu, lelaki beranak empat tersebut mengawali usahanya membuat mesin bubut.

Usahanya sempat berkembang bagus bahkan diekspor ke Malaysia. Menginjak tahun ketiga usahanya merosot setelah pesanan dari luar negeri berkurang terus.

Atas saran temannya, pria kelahiran Banjarnegara itu kemudian beralih usaha membuat kancing baju dari batok kelapa. Saran itu didasarkan pada berkembangnya usaha garmen di Pekalongan.

Modal Rp 50 Ribu

Atas saran itulah, pada 1998 Soetarko mulai merintis pengolahan batok kelapa. Hanya dengan bermodal uang Rp 50.000 dia mulai berbelanja batok kelapa di pasar dan membuatnya menjadi kancing baju batik berbagai ukuran.

Berjalan beberapa tahun, bisnis pengolahan limbah batok kelapa berkembang pesat. Produk barang yang diolah pun terus berkembang, tidak hanya kancing baju tetapi juga barang-barang aksesori lain seperti tas belanja, dompet, nampan, tempat tisu, hiasan dinding, hiasan meja.

Kini Soetarko telah mempekerjakan 25 karyawan untuk membantu usahanya yang kian berkembang. Tiap bulan dibutuhkan tidak kurang dari satu ton batok kelapa. Meski dulu dibuang, kini batok kelapa menjadi penopang tidak hanya bagi kehidupan Soetarko tetapi juga masyarakat di Wonopringgo.

Berkat keuletannya, dia bahkan meraih penghargaan sebagai Juara III Lomba Cipta Kerajinan Cendera mata Tahun 2004 dari Pemerintah Provinsi Jateng.(Muhammad Burhan-17s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA