| Jumat, 20 Mei 2005 | PANTURA |
Simego, "Surga" yang Belum TersentuhSURGA, bagi beberapa orang, difantasikan sebagai suatu tempat yang subur makmur di atas awan. Fantasi tersebut menemukan bentuknya di Simego, salah satu desa paling atas di wilayah teratas di Kabupaten Pekalongan, yaitu Kecamatan Petungkriyono. Nama Simego berarti sak mego (setinggi mega-Red). Lokasi desa yang berketinggian 1.800-2.300 meter di atas permukaan laut tersebut, jika dilihat dari desa-desa di sekitarnya terlihat seperti menyentuh mega di langit. Simego bagi mereka yang menggemari pendakian gunung laksana surga. Karena untuk bisa menuju ke sana, seseorang harus bekerja keras melewati jalur yang menantang persis saat naik ke puncak pegunungan. Ada tiga jalur yang biasa dilewati untuk bisa sampai ke desa berpenduduk 362 jiwa tersebut. Jalur pertama adalah Gumelem-Petungkriyono-Igirgede-Simego yang berjarak sekitar 6 km. Jalur lainnya, Plorengan-Kalibening-Banjarnegara-Palet-Simego (15 km) dan Songgodadi-Petungriyono-Simego (5 km). Namun, seluruh jalur itu tidaklah mudah. Selain melalui jalanan yang terjal bebatuan dan berkelak-kelok, di kiri dan kanan juga dipenuhi jurang dan tebing yang curam. Tak heran jika kendaraan yang berani melalui jalur tersebut hanyalah doplak (mobil bak terbuka-Red), truk, dan motor. Bupati Pekalongan Drs H Amat Antono yang berkunjung ke desa tersebut belum lama ini juga ngojek. Sesekali orang nomor satu di Kabupaten Pekalongan itu harus turun dan berjalan kaki karena melalui bebatuan yang sangat curam. Terisolasi Melihat aksi yang sangat sulit untuk menuju ke Simego, tidak heran jika daerah tersebut menjadi terisolasi dan nyaris tak tersentuh pembangunan. "Masyarakat jika mau ke pasar harus ke Kalibening, Banjarnegara," ujar Soengkowo, Kades Simego. Padahal, Simego mempunyai potensi alam yang tidak kalah dengan desa-desa lainnya di Kabupaten Pekalongan. Potensi pertanian di Simego sangat tinggi mengingat kondisi lahan yang subur. Sementara itu, keindahan alam dan udara yang sejuk merupakan potensi wisata alam yang tak terkira. "Jika jalannya diperbaiki, Simego berpotensi menjadi kawasan wisata alam karena panorama alamnya yang masih asri dan indah," ucap Kusmanto (46), warga Simego. Keindahan Simego tidak hanya bisa dilihat secara fisik tetapi juga dari sisi hubungan kemasyarakatan. Warga di sana dikenal punya semangat gotong royong tinggi. Adalah hal yang biasa bila ada satu warga yang panen jagung maka tanpa dikomando warga lain akan datang ke rumah dan membantu memanen, memilih, dan membersihkan jagung. Upaya Pemkab untuk megembangkan Simego bukannya tidak ada. Menurut keterangan Plt Camat Petungkriyono Bambang Supriyadi SH, atas prakarsa Bupati saat ini tengah dikembangkan budi daya kentang. "Setelah budi daya kentang berhasil di desa tetangganya, Gumelem, di Simego saat ini tengah dicoba," tuturnya. Di samping itu, lanjut Bambang, Pemkab juga tengah merencanakan pemanfaatan lahan pertanian. Sebab, di Simego banyak lahan pertanian yang masih kosong dan belum digarap Keinginan terbesar warga Simego adalah pembangunan sarana dan prasarana khususnya jalan sehingga sarana transportasi dapat dengan mudah menjangkaunya. Dengan demikian, masyarakat di sana akan lebih mudah berinteraksi dengan dunia luar untuk menggerakkan laju perekonomian. "Tidak ada yang diinginkan oleh warga sebesar keinginan memiliki jalan yang mulus," ucap Raunah (37), salah seorang warga Simego. (Muhammad Burhan-44j) |