logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 20 Mei 2005 NASIONAL
Line

Bupati Rina Iriani Kirim Surat ke Gubernur

  • Terkait Pencemaran di Karanganyar

KARANGANYAR - Bupati Karanganyar Hj Rina Iriani berkirim surat ke Gubernur Jateng H Mardiyanto, terkait pencemaran di wilayahnya. Dia mengusulkan kepada gubernur perlunya penambahan parameter natrium (Na) pada Perda Provinsi Jateng, sehingga sesuai dengan parameter untuk air minum.

Sebelum dikirim, surat tersebut dibahas terlebih dahulu oleh bupati dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup (LH) Karanganyar Sartono serta instansi terkait lainnya secara tertutup di Ruang Garuda, Gedung Setda.

Menurut bupati, baku mutu air limbah industri tekstil berdasarkan keputusan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) No. 51/1955 dan Perda Provinsi Jateng No. 10/2004 untuk parameter natrium tidak disyaratkan. Namun, parameter natrium dipersyaratkan dalam Keputusan Menkes No. 907/Menkes/SK/VII/2002 dan No 416/Menkes/Per/IX/1990.

Dikatakan, hasil uji coba laboratorium pada 12 Mei 2005 atas air sumur milik penduduk Dusun Sawahan dan Sembungan, Jaten, Karanganyar yang dilaporkan tercemar, ternyata kandungan natriumnya tinggi atau di atas baku mutu. ''Perusahaan tekstil terdekat memproses barang-barang produksinya dengan menggunakan kostik soda dan urea dalam jumlah cukup banyak. Sehingga mempunyai potensi meningkatkan parameter natrium dan NH3,'' jelas bupati dalam surat tersebut.

Sulit Ditindak

Sebelum mengikuti rapat tertutup, Kepala Dinas LH Sartono mengemukakan, meski mencemari, berbagai perusahaan tekstil di Jaten tersebut sulit ditindak secara hukum karena polutan pencemaran yang dihasilkan mengandung unsur natrium. Pasalnya, unsur pencemaran natrium belum dimasukkan sebagai unsur pencemar dalam Surat KLH No. 51/1955 maupun Perda Provinsi Jateng No. 10/2004. Jika unsur itu sudah diatur dalam UU, pihaknya mudah untuk mengambil tindakan. ''Kami berharap usulan itu segera diakomodasi gubernur dalam perda. Kalau waktu yang dibutuhkan untuk membuat perda cukup lama, gubernur untuk sementara bisa mengeluarkan surat keputusan (SK),'' kata Sartono.

Dalam paparan sebelumnya, Kabid Tindak Lanjut Penyelesaian Sengketa KLH Bambang Pramudyanto menyebutkan, hasil uji laboratorium di Balai Riset Standardisasi Industri dan Perdagangan (Baristand Indag) Semarang terhadap empat sumur warga Sawahan dan satu sumur pabrik yang dijadikan sampel mengindikasikan terjadinya pencemaran.

Air dari sumur itu, tidak layak sebagai air minum. Karena beberapa parameter seperti kesadahan, natrium, dan kekeruhan (total dispended solid/TDS) di atas baku mutu yang ditetapkan Keputusan Menkes No. 907/Menkes/SK/VII/2002.

''Kandungan natriumnya begitu tinggi hingga mencapai 300-400 satuan. Padahal yang ditetapkan Menkes kurang dari 200 satuan. Jika diminum terus menerus akan menyebabkan penyakit batu ginjal. Jika kandungan natrium dalam jumlah besar mencemari lahan pertanian, lahan akan menjadi keras, tidak subur dan sulit ditanami,'' kata Bambang. (SM,13/5) (G8-34v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA