| Jumat, 20 Mei 2005 | KEDU & DIY |
Hidupi Lima Anak dari Jualan KasurSIANG itu sang surya menumpahkan sinarnya ke bumi. Permukaan bumi pun berkilau tersengat oleh teriknya matahari. Dua anak manusia terus berjalan menelusuri jalan-jalan di desa. Seorang laki-laki tengah baya dengan bahu yang kekar memikul beban dua kasur. Sementara itu, di belakangnya seorang perempuan dengan punggung agak membungkuk juga menggendong sebuah kasur yang terbuat dari kapas. Keduanya terus berjalan, berjalan, dan berjalan. Demi mengais rezeki, mereka tak peduli lagi dengan teriknya sinar matahari. Entah sampai kapan rutinitas ini akan berhenti, mereka pun tak pernah tahu. Bahu lelaki ini telanjur perkasa, begitu pula dengan pinggang perempuan itu yang telah akrab menyusuri jalan hidupnya. Kaki mereka begitu terlatih dalam mengarungi semak belukar kondisi jaman. Pepek (45) dan Sukidi (50), suami istri pembuat dan penjual kasur itu dari Desa Banaran, Kecamatan Kedu, Kabupaten Temanggung. Sudah 20 tahun sejoli itu menekuni pekerjaan tersebut. Suka dan duka silih berganti mereka alami. ''Kalau beruntung, kasur cepat laku, bisa pulang lebih awal. Akan tetapi, kalau sepi kadang jam tujuh - delapan malam baru sampai rumah, itu pun terkadang tanpa hasil sama sekali,'' ungkap Pepek. ''Jika hujan terpaksa kami berteduh dan menunggu dua sampai tiga jam sampai hujan reda sehingga waktu kami tersita. Namun, suatu saat ada orang yang kasihan melihat kami sehingga kasur kami diborong,'' ungkap Pak Sukidi menceritakan pengalamannya. Mereka berdua membuat kasur dengan membeli kapuk dari tetangga di desanya yang kotor Rp 2.000/kg sedangkan yang telah bersih Rp 10.000/kg kemudian dicampur. Kasur dengan ukuran sedang, mereka butuh kapuk campuran sekitar 8 kg. Setelah dicampur dan diberi sarung, mereka menjualnya Rp 65.000. Dengan demikian, mereka bisa mengambil untung Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per kasur. Biasanya, satu hari mereka di rumah membuat kasur, hari berikutnya mereka berjalan kaki keliling ke sudut-sudut desa menjajakan dagangannya. Demikian seterusnya. Namun, tidak jarang ada pembeli yang sengaja datang ke rumahnya untuk membeli kasur atau memesan kasur. Mereka yang memesan ini bisa memilih ukuran dan tebal tipisnya kasur. Tentu saja harganya akan bervariasi. Pepek mengakui, keterampilan membuat kasur itu turun-temurun yang diwariskan nenek dan orang tua mereka sehingga kakak-kakak dan adik-adiknya sekarang banyak yang berprofesi sama dengan dirinya. Meskipun demikian, wilayah pemasaran kasur mereka berbeda-beda. Dahulu, ketika masih muda dan anak-anaknya masih kecil-kecil, mereka membuat kasur sampai nglembur. Hal itu mereka lakukan karena kebutuhan hidupnya cukup banyak terutama untuk membiayai anak-anaknya. Dia mengisahkan, saking capainya kemudian sakit perut sehingga selama sebulan harus beristirahat dan tidak bisa berdagang kasur. ''Sekarang kami tidak mau ngoyo seperti dahulu, khawatir kalau nanti malah sakit lagi,'' ujarnya. Menurut penuturan mereka, dengan berjualan kasur sampai saat ini dapat mencukupi kehidupannya yang sederhana tersebut. ''Ya, kalau hanya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari cukup. Namun, kami juga sering masih memikirkan anak-anak dan cucu-cucu,'' ucapnya. Mereka telah dikaruniai lima anak dan enam cucu. Tiga anaknya telah
berumah tangga sedangkan dua anaknya masih duduk di bangku sekolah dasar.
Karena itu, mereka merasa masih mempunyai tugas membesarkan anak-anaknya
tersebut. (Henry Sofyan-42dj)
|