logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 20 Mei 2005 INTERNASIONAL
Line

Lintas Jagat

Ternyata Racun Sungguhan

TAIPEI - Seorang pria Taiwan tewas dan empat lainnya keracunan gara-gara minum minuman energi yang ternyata bercampur sianida. Pada botol minuman itu ditempel label bertuliskan ''Aku beracun. Tolong jangan diminum''.

Korban mengira peringatan pada label itu adalah slogan iklan baru. Ternyata, minuman itu memang benar-benar beracun.

Gara-gara insiden itu, perusahaan minuman energi merk Bullwild itu langsung memerintahkan penarikan sekitar 1,2 - 1,6 juta botol dari seluruh Taiwan. Minuman energi itu sangat populer di kalangan sopir taksi dan pekerja. Minuman itu juga ditarik dari peredaran di Hong Kong dan Makao.

Polisi menduga, seseorang telah mencampurkan zat sianida dalam minuman itu, dan menaruhnya kembali di rak toko. Sosok pelaku terekam pada kamera CCTV toko itu dan polisi sudah menyebarluaskan gambar pelaku tersebut.

Rabu malam sebelumnya, seorang pria berusia 55 tahun tewas setelah menenggak minuman beracun itu. Empat lainnya dirawat di rumah sakit, dua dalam keadaan kritis.(rtr-gn-25)

Ingin Menang, Pakailah Merah

DURHAM - Para antropolog Inggris punya resep untuk meraih kemenangan: kenakan pakaian warna merah. Sebab, berdasarkan survei terhadap empat bidang olah raga yang dipertandingkan pada Olimpiade 2004 di Athena, para atlet yang mengenakan kostum warna merah atau bernuansa merah memiliki peluang menang lebih besar.

''Kami menemukan, kostum warna merah punya kaitan dengan lebih banyak kemungkinan menang,'' demikian laporan riset Russell A Hill dan Robert A Barton dari University of Durham, England. Temuan mereka dimuat di jurnal Nature edisi Kamis kemarin. Warna merah sering diasosiasikan dengan agresi di dunia binatang.

Di dunia binatang, pemilik warna merah, seperti misalnya laba-laba black widow, menandakan perilaku agresif dan dominan. Demikian pula yang terjadi di dunia kompetisi. Warna merah ternyata berdampak pada suasana intimidasi di bawah sadar terhadap lawan. Khususnya, bila kemampuan dan kekuatan para atlet yang berkompetisi sama tingkatannya. Jadi, pakailah merah untuk menang.(rtr-gn-25)

Wartawan Filipina Diintai Pembunuh

MANILA - Wartawan Filipina Pablo Hernandez tidak pernah lupa dengan pistol Ingram di sakunya. Di negeri itu, para wartawan pun kini bukan hanya ''bersenjatakan'' notes dan pena, tetapi juga senjata pistol sunggguhan. Hernadez membawa senjata sebagai upaya perlindungan diri karena pembunuhan terhadap wartawan makin sering terjadi di negeri itu.

''Situasi makin buruk,'' kata dia. Sehari sebelumnya, dia terlibat baku tembak dengan dua orang pria saat dia dan rekannya memergoki mobilnya dibuntuti kedua orang itu.

Media massa mengecam pemerintah karena gagal menghentikan serangan-serangan tersebut. Kebanyakan serangan terhadap wartawan berkaitan dengan berita soal pejabat dan pengusaha korup.

Sebanyak 70 wartawan tewas dibunuh sejak 1986. Namun, hingga kini belum ada seorang pun pelakunya tertangkap. Banyak kalangan curiga polisi dan militer ikut terlibat dalam persekongkolan pembunuhan terhadap wartawan. (rtr-gn-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA