SUARA MERDEKA
 
INDEKS INTERNASIONAL Kamis, 19 Mei 2005

ANDIZHAN - Pemerintah Uzbekistan Rabu kemarin mengajak sejumlah diplomat asing ke Kota Andizhan, tetapi tidak memperlihatkan tempat terjadinya pembantaian terhadap 500 massa yang berdemonstrasi Jumat lalu.

LEBIH dari 700 orang diduga tewas dalam demonstrasi yang berbuntut kekerasan di Kota Andizhan, Uzbekistan timur, Jumat (13/5) lalu. Masyarakat internasional tersentak. Bagaimana bisa jatuh korban sedemikian banyak dalam unjuk rasa itu? Berikut ini urut-urutan kejadian mengenaskan tersebut.

 

BRASILIA - Aksi unjuk rasa besar-besaran 12.000 buruh tani Brasil selama 17 hari berakhir dengan kekerasan, Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Para aktivis bentrok dengan polisi. Mereka mendesak pemerintah mempercepat reformasi agraria untuk mengurangi kemiskinan di pedesaan.

UNJUK RASA dan disusul dengan pembunuhan 745 demonstran oleh tentara Uzbekistan menimbulkan pertanyaan besar bagi dunia. Pengamat politik internasional menduga, revolusi demokrasi sedang berlangsung di Uzbekistan. Lagi pula, fenomena protes rakyat sepertinya menggejala di negara-negara eks Soviet.

FORT HOOD - Serdadu AS yang didakwa mengikatkan kawat ke tahanan Irak di penjara Abu Ghraib, Selasa lalu, dijatuhi hukuman enam bulan penjara. Foto perilaku tak manusiawi itu telah menyulut kemarahan internasional. Seorang juri militer yang memutuskan nasib Sabrina Harman (27) di pangkalan AD terbesar negara itu merekomendasikan hukuman enam bulan penjara.

LONDON - Pembatasan jam kerja bukan hanya berlaku untuk pekerja, tetapi juga untuk keledai. Begitulah keputusan Parlemen Uni Eropa pekan lalu. Pekerja di Uni Eropa maksimal bekerja 48 jam seminggu Setiap pekerja di kawasan Uni Eropa tidak boleh bekerja lebih dari 48 jam seminggu,

 

NIIGATA - Feri Korea Utara, Rabu kemarin, tiba di Jepang untuk kali pertama pada tahun ini. Feri yang pernah diduga mengangkut suku cadang program rudal Pyongyang itu tiba saat kekhawatiran meningkat bahwa Korea Utara mungkin sedang bersiap-siap melakukan uji coba nuklir.

WASHINGTON - Presiden AS George W Bush Rabu kemarin memperbaharui sanksi-sanksi ekonomi terhadap Myanmar dengan alasan pemerintahan militernya menekan HAM. ''Krisis antara Amerika Serikat dan Myanmar timbul dari berbagai aksi serta kebijakan pemerintah yang mengarah pada deklarasi keadaan darurat nasional pada 20 Mei 1997, yang belum selesai,''

  Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA