| Kamis, 19 Mei 2005 | SALA |
Petani Resah Bulir Padi KosongSRAGEN - Ratusan petani di wilayah Desa Celep dan Pengkok, Kecamatan Kedawung, serta Desa Jirapan, Kecamatan Masaran, resah dan kecewa. Sebab, bulir padi siap panen milik mereka ternyata banyak yang gabuk atau tidak berisi akibat serangan hama sundep. Akibatnya, harga jual padi hasil panen di pasaran jatuh. Serangan hama sundep di wilayah itu, juga menyebabkan hamparan sawah mengalami puso. ''Padi kami yang siap panen, ternyata banyak yang bulirnya kosong,'' kata Minto Dikromo (55), petani asal Gondang, Desa Jirapan, Masaran, kemarin. Minto menjelaskan, padinya akan dipanen dalam waktu 5-7 hari lagi. Kegagalan hasil panen itu, diduga akibat lahan mereka terserang ulat penggerek batang. Hamparan padi seluas satu patok (sekitar 3.300 m2) yang biasanya menghasilakn antara Rp Rp 4,3 juta - Rp 4,5 juta, hanya ditawar sekitar Rp 3 juta, karena bulir padinya banyak yang tidak berisi. Kepala Dinas Pertanian, Endang Handayani, didampingi Kabid Produksi, Endar Kuswanto, membantah ada serangan hama sundep di Desa Celep dan Pengkok, Kecamatan Kedawung, serta Jirapan, Kecamatan Masaran, yang menyebabkan puso. Sebab, pihak Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan belum pernah mendapat laporan adanya serangan hama di wilayah itu yang mengakibatkan puso. ''Ada kerusakan, tapi tidak parah,'' kata Endang Handayani. Belum Puso Namun diakui, di Kabupaten Sragen serangan hama penggerek batang itu mengancam 228 ha lahan milik petani. Adapun 84 hektare lainnya mengalami serangan sedang, dan 21 hektare lagi mengalami serangan berat. Disamping itu, 386 hektare lahan terancam serangan hama wereng, dan sembilan hektare mengalami serangan ringan. ''Yang dilaporkan mengalami puso akibat serangan hama wereng atau penggerek batang, belum ada,'' kata Endar Kuswanto. Serangan terjadi di wilayah Kecamatan Kedawung, Gondang, Sidoharjo, Karangmalang, Ngrampal, Tanon dan Sambungmacan. Camat Kedawung, Yuniarti, menjelaskan, 20 hektare lahan sawah milik petani di Karangampah, Desa Bendungan, mengalami kekeringan, tapi belum sampai puso. ''Kenapa lahan sawah sampai kekeringan, karena cadangan air hulu terbatas, sehingga petani mengambil air bawah tanah dengan mesin pompa,'' katanya. Di Desa Pengkok, ada tujuh hektare lahan yang siap panen dilaporkan terserang wereng.(nin-42a) |