| Kamis, 19 Mei 2005 | PANTURA |
Ujian Diundur, Semangat Belajar TurunBREBES - Kebijakan pemerintah mengundurkan jadwal ujian nasional (UN) 20 hari mengakibatkan semangat belajar siswa turun. Semula pemerintah merencanakan ujian tingkat SLTP/SMA dilaksanakan serempak, yakni 9 sampai 11 Mei. Namun kemudian, mundur jadi 30 Mei sampai 1 Juni 2005. Kemarin, beberapa guru mengkhawatirkan pengunduran waktu ujian itu akan menyebabkan perolehan nilai akhir ujian menurun. Sebab sebagian besar siswa, saat itu telah menyatakan siap menghadapi ujian dengan belajar rutin. Namun begitu akan dimulai, Pemerintah Pusat menetapkan adanya perubahan jadwal waktu ujian. "Dari sisi waktu, memang ada kesempatan untuk belajar. Namun pada umumnya, siswa menyatakan kendur semangatnya," ujar Kepala SMA Negeri 3 Brebes Sri Lahir SPd, kemarin. Hal senada diungkapkan Kepala SMA Negeri Banjarharjo Bambang Rudiyanto SPd. Akibat pengunduran pelaksanaan ujian, beban para guru bertambah. Apalagi guru bidang studi yang diujikan dalam UN. Pihak sekolah pun terpaksa menjadwal kembali pematangan materi mata pelajaran yang akan diujikan. Menurut Bambang, secara psikologis, pengunduran jadwal ujian bukannya menambah semangat belajar anak tetapi malah menurunkannya. Yang dikhawatirkan, jika semangat turun, maka nilai akhir menjadi jelek. Sesuai dengan ketentuan, nilai ujian yang dapat dinyatakan lulus minimal 4,25. Namun jika tidak memenuhi angka tersebut, siswa harus mengulang lagi. Pelaksanaan ujian ulang atau ujian tahap ke dua untuk tingkat SMP pada November, sedangkan untuk SMA pada Oktober 2005. Pelajaran Tambahan Di tengah tenggang waktu pengunduran, kalangan guru SMA Negeri Banjarharjo dan SMA Negeri 3 Brebes memberikan jadwal pelajaran tambahan, khususnya untuk Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, dan Ekonomi. "Siswa belajar pukul 07.00 sampai pukul 10.00. Jika enam pelajaran, berakhir pada pukul 12.00," kata Kepala SMA Negeri Banjarharjo Bambang Rudiyanto. Menurut dia, yang merepotkan adalah pengunduran itu menyebabkan pelaksanaan ujian bertepatan dengan persiapan penerimaan murid baru dan persiapan pelaksanaan semester genap untuk kenaikan kelas. "Pekerjaan guru jadi menumpuk." Menyangkut penjadwalan kembali materi pelajaran yang diujikan, secara teori tidak ada masalah. Namun persoalannya, guru harus menentukan materi yang penting dan diperkirakan akan muncul dalam ujian. Menurut mereka, pengulangan materi pelajaran ibarat sebuah perjalanan yang sudah mencapai finis tetapi harus kembali ke tengah, bahkan ke depan. Padahal pelajaran bukan lomba lari yang harus mengejar finisnya saja, melainkan bobot daya serap anak didik.(wh-44m) |