logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Mei 2005 NASIONAL
Line

SMS Terakhir : Sampai Jumpa Besok Pagi ...

KABAR meninggalnya dokter Eko Rahayuningsih (46) dengan cara tragis, yakni membakar diri menimbulkan pertanyaan besar tetangga sekitar. Salah seorang petugas Polsek Cepu mengatakan, berdasarkan pengakuan salah seorang anak almarhumah, malam sebelum peristiwa terjadi, mantan Kepala Puskesmas Kecamatan Bogorejo itu membaca buku hingga larut malam. Tidak diketahui buku apa yang tengah dibaca almarhumah. Namun berdasarkan pengakuan beberapa orang staf Dinas Kesehatan Blora, siang hari sebelum jam kerja berakhir, almarhumah berdiskusi tentang penyakit filaria (kaki gajah-Red) hingga setengah jam lamanya. ''Saya berdiskusi dengan Bu Eko tentang penyakit filaria. Diskusinya cukup lama, mungkin setengah jam,'' ujar Kasi Pencegahan dan Penularan Penyakit Lilik Hernanto SKM MKes, kemarin.

Lilik mengaku, begitu mendengar kabar duka itu, dia seolah-olah tidak percaya dan tubuhnya merasa merinding. Masih lekat di ingatannya, wajah almarhumah karena Selasa siang (17/5) sempat berdiskusi dengannya tentang penyakit filaria.

Usai berdiskusi, almarhumah pamit ke Polres Blora untuk mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM) anak keduanya, Ema Ratri yang masih duduk di kelas 2 SMA. Namun, lantaran butuh waktu lama mengurus SIM, almarhumah sempat mengirim short massage service (SMS) kepada salah seorang rekan kerjanya. Saat itu, almarhumah menanyakan jumlah peserta apel upacara sore di kantornya. Lantaran dijawab peserta apel cukup banyak, almarhumah pun meminta izin untuk tidak mengikuti apel. ''Ya, memang Selasa siang (17/5) almarhumah sempat berkirim SMS ke salah satu rekan sejawatnya, menanyakan tentang apel. Hingga akhirnya dia pamit dan kepada rekan itu dia menyatakan sampai jumpa besok pagi,'' ungkap Kepala TU DKK Blora, H Setyo Edi SH.

Sementara itu, Edi Widayat, salah seorang staf Dinas Kesehatan lainnya mengatakan, meski baru empat bulan bertugas di Kantor Dinas Kesehatan dengan jabatan Kepala Seksi (Kasi) Kesehatan Keluarga, almarhumah dikenal sangat religius. Menurutnya, hampir setiap pagi almarhumah selalu menunaikan shalat dhuha. Tak lupa pula di saat jam istirahat, almarhumah melaksanakan shalat zuhur. ''Yang saya tahu almarhumah tidak lupa menjalankan shalat, baik shalat wajib maupun shalat sunah,'' ungkapnya.

Pisah Ranjang

Sementara itu, berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Suara Merdeka dari kepolisian, almarhumah sudah hampir empat tahun pisah ranjang dengan suaminya, dokter Dwi Budhi Prasetyo. Almarhumah tinggal bersama tiga orang anaknya, yakni Amdaru Yakti Pinastika (18), Ema Ratri (17) dan Indu Prasetyaning Rahayu (13) di Jalan Sidomulyo V/19, Cepu, Blora. Sementara sang suami tinggal di rumah dinas di Jalan RSU Cepu. Suami korban bekerja sebagai dosen di STEM (Sekolah Tinggi Energi dan Mineral) Cepu. Sebelumnya, sang suami bekerja di Rumah Sakit Pusdiklat Migas Cepu.

Tidak diketahui pasti alasan pasangan suami istri tersebut pisah ranjang. Hingga berita ini ditulis, suami korban tidak mau ditemui wartawan. Subandi, salah seorang kerabat keluarga, mencegah wartawan mewawancari suami korban.

Hanya saja masyarakat di sekitar rumah korban mengaku heran dengan kejadian itu. Sebab, korban dikenal sangat religius. Selain itu, menurut para tetangga, korban juga dikenal supel dan mudah bergaul. ''Orangnya ramah dan tidak nampak kalau dia itu punya masalah,'' ujar Sutrisno, Ketua RT setempat.

Mengambil SK

Tidak ada yang istimewa pada prosesi pemakaman dokter Eko Rahayuningsih, kemarin. Acara dimulai dengan sambutan singkat dari keluarga yang diwakili H Mastur, disusul sambutan dari Pusdiklat Migas Cepu, yang diwakili Ir Tugas Sugiyanto. Dalam sambutannya, keduanya meminta agar para pentakziah mendoakan arwah almarhumah dan diampuni jika semasa hidupnya mempunyai kesalahan, baik yang disengaja maupun tidak.

Usai itu, dari keluarga besar karyawan DKK Blora yang diwakili Kepala TU H Setyo Edy SH, menyempatkan membacakan riwayat hidup almarhumah. Disebutkan, almarhumah dengan NIP 140243778 adalah dokter kelahiran Ambarawa, 21 Desember 1959. Menikah dengan dokter Dwi Prasetyo pada 10 Januari 1987 dan dikarunia tiga putri, yaitu Andaru Yakti Pinastika (18) yang saat ini tercatat murid SMA kelas 3, Ema Ratri Kartika Jaliswatu (SMA kelas 2) dan Indu Prasetyaning Rahayu (SMP kelas 1).

Mengabdi sebagai CPNS pada tahun 1989 dan diangkat menjadi PNS pada 1 Desember 1989. Selanjutnya, ditugaskan sebagai dokter Puskesmas Medang hingga 4 Juni 1993. Mulai 4 Juni 1993 hingga 25 September 1997 menjabat sebagai Kepala Puskesmas Bogorejo. Tercatat, 25 September 1997 hingga 24 Februari 2005 menjadi Kepala Puskesmas Sambong.

Mulai 24 Februari 2005 hingga sekarang menjadi Kasi Kesehatan Keluarga (Kesga) pada DKK Blora. Dikemukakan Edy, selama menjalankan tugas korban melaksanakannya dengan ceria. Artinya, tidak pernah ada permasalahan dan lancar. (Abdul Muiz, Urip Daryanto-34v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA