logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Mei 2005 NASIONAL
Line

TPF: Pollycarpus Anggota BIN

  • Kasus Kematian Munir

JAKARTA - Tim Pencari Fakta (TPF) kasus Munir menemukan bukti bahwa pilot Garuda Pollycarpus Budihari Priyanto yang statusnya sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kematian Munir, merupakan anggota Badan Intelijen Negara (BIN). Selain itu, TPF juga menemukan fakta bahwa Pollycarpus menjalin kontak melalui telepon dengan mantan Deputi V BIN Mayjen Muchdi Purwopranjono. Fakta baru tersebut dilaporkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Kantor Presiden.

Hal itu dikemukakan Wakil Ketua TPF Munir, Asmara Nababan, kepada pers di Kantor Kepresidenan seusai diterima oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu (18/5) petang. Menurutnya, ada hubungan antara Pollycarpus dengan BIN, tapi ini harus diklarifikasi dulu. Asmara mengatakan, kontak antara Pollycarpus dan "seseorang di BIN" dilakukan berkali-kali. ''Itu menandakan adanya hubungan yang selama ini dibantah,'' kata Asmara.

Dia semula menolak menyebutkan siapa seseorang di BIN tersebut. Baru setelah didesak, ia menyatakan nomor telepon yang digunakan adalah milik Kantor Deputi V BIN. Ketika ditanya apakah nomor telepon tersebut milik mantan Deputi V BIN Mayjen (Purn) Muchdi Purwopranjono, Asmara menjawab, ''Ya, Pak Muchdi lah.''

Ditambahkan, kasus kematian Munir bisa dibawa ke pengadilan untuk membongkar dan membuktikan pemberi perintah serta pendukung pembunuhan. Ia memastikan, pembunuhan di atas pesawat Garuda Singapura-Amsterdam itu tidak dilakukan Pollycarpus secara pribadi. ''Jadi, ada konspirasi, ada persekongkolan untuk membunuh Munir,'' ujar Asmara. Pertemuan dihadiri Jaksa Agung Abdul Rahman Saleh, Kepala Polri Jenderal Da'i Bachtiar, dan Kepala BIN Syamsir Siregar. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Widodo AS juga tampak hadir.

Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi mengatakan, Presiden memberi arahan jelas kepada Kepala BIN, Kepala Polri, dan Jaksa Agung agar pengungkapan kasus ini tidak kembali menemui kendala. Para pejabat, menurut Sudi, telah berkomitmen untuk menuntaskan kasus ini.

Sebelumnya anggota TPF Rachland Nashidik mengatakan, tim bentukan Presiden yang bertugas mencari fakta tentang kasus pembunuhan Munir, menemukan bukti-bukti kuat yang menunjukkan bahwa keterangan pejabat BIN bertentangan dengan fakta yang ada. ''Pejabat-pejabat BIN ternyata kenal dan pernah berhubungan dengan Pollycarpus. Jadi, BIN selama ini telah berbohong,'' katanya. Mantan Sekretaris Utama BIN Nurhadi Djazuli yang diperiksa di Mabes Polri pekan lalu, mengaku tidak me-ngenal Pollycarpus. Bahkan, ketika mereka berdua dipertemukan, mengaku tidak saling mengenal.

Diperiksa Lagi

Pada hari yang sama, Nurhadi diperiksa kembali secara intensif oleh TPF Munir. ''Untuk kedua kalinya, TPF memeriksa Nurhadi Rabu (18/5). Sesuai dengan aturan protokol, saya tidak bisa menyebutkan tempatnya,'' kata anggota TPF Retno Marsudi. Namun menurut sumber di kepolisian, Nurhadi menjalani pemeriksaan pertama kalinya di Deplu pada 9 Mei 2005. Biasanya pemeriksaan TPF Munir berlangsung di empat tempat, yakni Komnas HAM, Komnas Perempuan, BIN dan Deplu.

Tim Penyidik Polri, kata dia, akan segera membawa sisa tubuh Munir dan sampel cairan yang kini berada di Belanda. ''Tim itu kini sudah berada di Belanda,'' ungkap Retno yang juga Direktur Eropa Barat Departemen Luar Negeri.

Menurutnya, tim forensik akan memeriksa kembali organ tubuh dan sampel cairan sebelum dibawa ke Indonesia. ''Karena itu, tim penyidik juga membawa ahli forensik,'' katanya. (bu,A20-48v)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA