| Kamis, 19 Mei 2005 | MURIA |
Lulusan Al-Anwar Bisa Langsung Diterima di Al-Azhar KairoBAGI umat Islam di Indonesia, nama Pesantren Al-Anwar sudah tidak asing lagi. Pondok itu selain menggembleng santrinya memahami agama, juga membekali mereka dengan ilmu pengetahuan, keterampilan, dan seni. Pesantren Al-Anwar terletak di tengah kota kecamatan yang merupakan daerah perbatasan Provinsi Jateng dan Jatim. Bangunan pondok itu terkesan megah dan dilengkapi dengan puluhan kamar untuk santri. Pondok khusus pria itu didirikan tahun 1967, di Desa Karangmangu, Kecamatan Sarang, Rembang. Pesantren Al-Anwar diasuh oleh kiai sepuh yang sekaligus tokoh nasional, yakni KH Maimoen Zubair. Itu sebabnya pondok itu sering dikunjungi oleh para pejabat negara. Menurut salah seorang pembina di pondok itu, KH Abdulah Ubab (Gus Ubab) yang kini mencalonkan diri sebagai wakil bupati dan berpasangan dengan H Hendarsono, Al-Anwar merupakan nama sebuah pesantren salaf yang berjuang demi perkembangan dan kemajuan agama Islam serta bangsa dan negara Indonesia. Karena disebut pesantren salaf, maka pelajaran yang diajarkan kepada santrinya adalah kitab-kitab klasik. Di luar itu, Al-Anwar juga memiliki lembaga pendidikan Madrasah Ghozaliyyah Syafiiyyah (MGS) dan Muhadioroh (sekolah persiapan). Gus Ubab mengatakan, meski Muhadioroh belum berkurikulum negara, keberadaannya disamakan/disetarakan dengan lembaga pendidikan Islam di Kairo dan Mesir. Maka, lulusan Muhadiaroh Al-Anwar bisa langsung diterima di Universitas Al-Azhar Kairo dan Mesir, tanpa melalui proses yang panjang. Kegiatan rutin harian para santri Al-Anwar tergolong padat. Setiap hari mereka harus mengikuti pengajian kitab ihya ulumiddin, Alquran, kitab Alfiyyah Lbn Aqil, kitab salaf, musyawarah fathul qorib, musyawarah fathul muin, dan diskusi menyangkut pelajaran yang sudah diajarkan. Khusus Selasa dan Jumat, para santri diwajibkan membaca Yasin Fadlilah. Pada Kamis malam mereka disuruh membaca Maulidid Diba'iy. Di luar itu juga masih ada kegiatan salat wajib, zikir, sekolah, dan berbagai kekiatan ekstra. Untuk kegiatan tahunan, Pesantren Al-Anwar sering mengirimkan delegasi musyawarah bahtsul masail ke pesantren-pesantren ternama di Jawa. Selain itu juga mengikuti upacara dan karnaval 17 Agustus di beberapa daerah. Pondok Al-Anwar yang memiliki 1.714 santri dan 50 guru pengajar punya kelompok marching band yang cukup andal. Buktinya, marching band pesantren itu sering diundang untuk tampil di luar daerah, seperti di Tuban, Surabaya, Semarang, dan dalam waktu dekat lagi akan tampil di Jakarta. Ketua Umum Grup Marching Band Al-Anwar, Turmudzi mengatakan, para pemainnya merupakan santri Al-Anwar, seluruhnya 68 orang. Pelatihnya dipercayakan kepada Lutfiantoro Arell dan Sudrajat Bagio. Peralatan yang dimiliki terdiri atas bass drum, snare drum, cornet, trombone, salsa, tuba, mellophone, percussion, dan barithone. "Grup kami siap diundang untuk acara formal ataupun nonformal," kata pembina grup itu, KH Majid Kamil Maimoen (Gus Kamil).(Djamal A Garhan-15s) |