logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Mei 2005 MURIA
Line

Makam Adipati Tondonegoro Dipugar

PATI- Di ujung pertigaan antara Jalan Dr Wahidin dan Jalan Tondonegoro, tepatnya di sebelah timur Kantor Pemkab Pati, terdapat kompleks makam tua yang disebut-sebut sebagai makam Raden Tondo. Adapun Raden Tondo atau lengkapnya Raden Tondonegoro, adalah Adipati Pati ketiga setelah Raden Kembangjojo dan Raden Tombronegoro.

Karena kompleks makam itu bertahun-tahun seperti tak terawat, kesan kumuh pun tampak jelas. Apalagi pada malam hari di pertigaan jalan tersebut selalu gelap, karena lampu penerangan jalan yang terpasang mati.

Kepala Dinas Perhubungan dan Pariwisata, Ir Suharyono MM juga memberikan penilaian yang sama. Dengan demikian, katanya, upaya untuk menata kembali kompleks makam keluarga Adipati Raden Tondonegoro pun dilakukan dengan menggunakan biaya APBD Tahun 2005.

Dengan dipugarnya makam tersebut, paling tidak menjelang peringatan Hari Jadi Ke-682 Pati, 7 Agustus yang akan datang, kompleks makam salah satu leluhur Pati itu tidak lagi terkesan kumuh. Dampak lain, di lokasi pertigaan jalan itu juga tidak terjadi kerawanan arus lalu lintas.

Sebab, selama ini pandangan pengguna Jl Dr Wahidin yang datang dari utara bila hendak belok ke timur (ke kiri) masuk Jalan Tondonegoro, selalu terhalang pagar kompleks makam. Sebab pagar tembok yang terpasang terlalu tinggi, sekitar 120 cm di atas permukaan trotoar.

Berkaitan dengan hal itu, selain perbaikan makam juga akan dilakukan penggantian konstruksi pagar tembok dengan bagian atas terbuat dari besi cor. "Maksudnya, dengan konstruksi pagar pengganti itu, supaya pengguna jalan dari utara bila hendak belok ke kiri bisa leluasa melihat arus lalu lintas yang datang dari timur," ujarnya.

Peninggian

Di samping itu, kata Suharyono, kompleks makam tersebut juga dilengkapi dengan pintu gerbang dari batu candi dan bangunan joglo berukuran 3 x 3 meter. Bangunan itu dikhususkan sebagai fasilitas serbaguna untuk para peziarah.

Karena lokasi makam lebih rendah dibandingkan dengan jalan raya, maka dalam upaya pemugaran itu juga dilakukan peninggian sekitar 40 cm dan bagian permukaan lokasi dipasang paving block. Pekerjaan pemugaran tersebut sepenuhnya diserahkan kepada rekanan.

Sementara itu, Direktur CV Djahe Semi, Budi Kebrok yang melaksanakan pemugaran kompleks makam tersebut mengaku sebagai keturunan Adipati Tondonegoro, yang oleh orang Pati disebut sebagai Mbah Tondo. Karena pemugaran makam itu untuk hal-hal yang baik, maka pihaknya akan bekerja maksimal sehingga bisa selesai tepat waktu.

Hanya, pihaknya akan menghadapi sedikit kesulitan pada saat harus meninggikan lokasi makam.

"Sebab, pekerjaan tersebut sudah barang tentu harus meninggikan batu nisan. Karena itu, kami harus bekerja hati-hati," ujarnya. (ad-15ds)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA