logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Mei 2005 KEDU & DIY
Line

Beredar Buku Gadjah Mada Undercover

  • Besok Akan Demo ''Harkitnas'' di UGM

YOGYAKARTA - Gonjang-ganjing di lingkungan Kampus Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta terus bergulir. Setelah Aksi Keprihatinan sehubungan dengan jomplangnya insentif antara pejabat dan bawahan, sejak beberapa hari terakhir ini di kalangan dosen, karyawan, dan mahasiswa beredar buku Gadjah Mada Undercover (GMU).

Selain mengungkap sejumlah kasus, dalam buku yang dibuat Tim Gama Undercover juga berisi ajakan untuk melakukan demo gabungan pada hari Jumat (20/5) besok, sekaligus memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas). Namun seperti yang ditulis pada halaman terakhir buku itu, Harkitnas diplesetkan menjadi Hari-hari Sakit Panas.

Kepala Bidang Humas dan Protokol UGM Drs Suryo Baskoro MS yang dikonfirmasi (18/5) kemarin, membenarkan tentang beredarnya buku tersebut. ''Saya juga menerima kok,'' ujarnya ketika ditemui di Gedung Pusat UGM. Katanya, buku setengah halaman folio setebal 19 halaman itu diterimanya via pos. Dari sejumlah staf di Gedung Pusat UGM, diperoleh keterangan banyak pejabat juga menerima kiriman yang sama dalam bungkus amplop berperangko Rp 2.000.

Sementara itu di kalangan dosen dan mahasiswa, buku GMU diterima secara berantai dalam bentuk fotokopian.

Ini karena pada halaman depan buku dengan tulisan Undercover (dalam blocking hitam) memang terdapat tulisan (permintaan) PERBANYAK. ''Ketika saya terima sudah fotokopian,'' ujar seorang dosen.

Hingga kemarin, Suara Merdeka belum bisa mendapat keterangan siapa penyusun buku tersebut. ''Saya juga tidak tahu Tim Gama Undercover, penyusun buku itu. Yang jelas bukan dari kelompok kami,'' ujar Drs Ari Sujito MSi. Namun demikian, menurut dosen muda yang menjadi salah seorang penggerak aksi keprihatinan pada peringatan Hardiknas lalu itu (Suara Merdeka, 2/5), buku GMU memuat lengkap permasalahan yang ada di lingkungan Kampus UGM.

''Kalau dari kelompok kami, pasti kami sebutkan identitas,'' ujar Ari Sujito. Dari data yang diungkapkan dan bahasa yang digunakan, dia menduga buku GMU justru berasal dari orang atau kelompok lain yang lebih banyak tahu persoalan sebenarnya.

Oleh karena itu, Ari Sujito menyambut baik beredarnya buku tersebut. Sebab permasalahan insentif yang dimunculkan pada peringatan Hardiknas lalu hanya entry point saja terhadap permasalahan lain yang ada.

Katanya, dalam rangka menjadi research university, harus ada good university governance. Jika tidak, dengan permasalahan yang ada, Ari Sudjito khawatir kampus besar itu akan ambruk karena bangkrut dalam tiga sampai lima tahun mendatang. ''Jadi kita tidak usah merasa tabu mengungkap permasalahan yang ada,'' ujar Ari Sudjito. (P58-16m)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA