logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Mei 2005 INTERNASIONAL
Line

Lintas Jagat

Sanksi Myanmar Diperpanjang

WASHINGTON - Presiden AS George W Bush Rabu kemarin memperbaharui sanksi-sanksi ekonomi terhadap Myanmar dengan alasan pemerintahan militernya menekan HAM.

''Krisis antara Amerika Serikat dan Myanmar timbul dari berbagai aksi serta kebijakan pemerintah yang mengarah pada deklarasi keadaan darurat nasional pada 20 Mei 1997, yang belum selesai,'' demikian pernyataan Gedung Putih mengenai pembaharuan sanksi-sanksi terhadap Myanmar itu.

Berbagai aksi dan kebijakan itu, menurut pernyataan tersebut, termasuk kebijakan-kebijakan perlakukan tekanan berskala besar terhadap oposisi demokratis di Burma, sikap bermusuhan terhadap kepentingan-kepentingan AS dan terus menerus menjadi ancaman bagi keamanan nasional dan kebijakan luar negeri AS.

Sanksi-sanksi tambahan itu termasuk larangan import produk apapun dari Myanmar, termasuk tekstil, yang merupakan industri sangat menentukan dalam perekonomian Myanmar.(ant-25)

Sandera Australia Segera Bebas

CANBERRA - Seorang warga Australia yang disandera oleh gerilyawan Irak kemungkinan akan dibebaskan dalam waktu 24 jam, demikian diberitakan radio lokal, Rabu kemarin, mengutip pernyataan ulama Australia Syekh Taj al-Din al-Hilali.

Seorang wartawati dari radio Arab SBS di Australia, Majida Abboud-Saab, mengatakan Syekh al-Hilali, yang berada di Irak guna mengupayakan pembebasan Douglas Wood (63), telah memberitahu Majida, dia telah berbicara dengan seorang pria yang mewakili gerilyawan.

''Mereka mengatakan bahwa mereka ingin membebaskan Douglas Wood,'' ujar Abboud-Saab pada radio Southern Cross Broadcasting (SBS).

Abbas Minta Dukungan China

BEIJING - Presiden Palestina Mahmud Abbas mengatakan, Hamas akan disambut baik untuk ikut serta dalam pemilihan Juli dan bahwa mungkin akan ada peran bagi kelompok Islam itu dalam pemerintah masa depan.

''Jika mereka ingin ikut serta dalam kehidupan politik, dan jika mereka memperoleh cukup kursi dalam pemilihan legislatif, mereka disambut baik untuk berpartisipasi, bahkan dalam pemerintah pada masa depan,'' kata Abbas kepada wartawan di Beijing.

Abbas tiba Selasa dini hari dari Jepang, tempat ia mengatakan pada media setempat bahwa Hamas perlu menjadi bagian dari proses politik itu. (ant-25)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA