logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Mei 2005 INTERNASIONAL
Line

Feri Korut Disambut Protes Jepang

NIIGATA - Feri Korea Utara, Rabu kemarin, tiba di Jepang untuk kali pertama pada tahun ini. Feri yang pernah diduga mengangkut suku cadang program rudal Pyongyang itu tiba saat kekhawatiran meningkat bahwa Korea Utara mungkin sedang bersiap-siap melakukan uji coba nuklir.

Feri Mangyongbong-92, hubungan penting antara negara komunis yang tertutup itu dengan dunia luar, disambut protes saat tiba di Pelabuhan Niigata, Jepang utara.

''Pulang, pulang,'' teriak sejumlah pengunjuk rasa, banyak di antara mereka membawa poster yang menentang kedatangannya.

''Terjadi sentimen kuat terhadap Korut di Jepang lantaran penculikan warga Jepang oleh para agen Pyongyang beberapa tahun lalu. Keluarga korban penculikan itu termasuk mereka yang mengacungkan tinjunya ke udara dalam protes tersebut.

''Kembalikan warga kami yang diculik,'' teriak Teruaki Masumoto, saudara korban penculikan, sementara beberapa awak feri melihatnya dari geladak.

Feri tersebut melakukan kunjungan pertamanya sejak Jepang mengetatkan persyaratan jaminan bagi kapal-kapal asing untuk membayar biaya pembersihan tumpahan minyak. Pelayaran terakhir feri itu dilakukan pada Desember tahun lalu.

Peraturan diperketat setelah beberapa kapal Korut yang tidak diasuransikan berlayar di perairan Jepang dalam beberapa tahun terakhir, sehingga menyebabkan tumpahan minyak yang harus dibersihkan dengan biaya pembayar pajak.

Mangyongbong-92, yang menurut para pejabat Jepang digunakan untuk membawa mata uang keras ke Korut yang miskin, sebelumnya tidak bisa memenuhi persyaratan baru itu.

Menurut Kementerian Keuangan Jepang, pada Maret 2004 uang total 25 juta dolar (sekitar Rp 237 miliar) dibawa dari Jepang ke Korut dengan kapal-kapal Pyongyang, terutama Mangyongbong-92.

Pemeriksaan Diperketat

Tim investigasi Jepang yakin kapal tersebut sebelumnya digunakan untuk menyelundupkan narkotika dan suku cadang rudal. Para pembelot Korut mengatakan lebih dari 90 persen suku cadang rudal Korut dibeli dari Jepang.

Namun pemeriksaan diketatkan menyusul meningkatnya sentimen anti-Korut setelah pada 2002 negara komunis itu mengakui menculik warga Jepang pada 1970-an dan 1980-an untuk membantu melatih mata-mata tentang bahasa dan kebudayaan Jepang. (rtr-niek-26)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA