logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 19 Mei 2005 BANYUMAS
Line

''Jangan Takut Masuk Gedung DPRD''

HENDYS (16) menunggu teman-temannya yang baru turun dari bus. Dia tak segera memasuki bangunan berlantai dua di depannya. Siswa kelas 1 Penjualan SMK Negeri 1 Bawang itu, Selasa (17/5), bersama teman-temannya mengunjungi gedung DPRD Kabupaten Banjarnegara.

Kepala Sekolah Drs Aziz Purwanto menuturkan Hendys dan teman-temannya sangat ingin datang ke gedung wakil rakyat itu. Mereka bosan belajar tentang demokrasi hanya di belakang bangku sekolah. Sekali waktu mereka ingin belajar dari wakil rakyat secara langsung.

Akhirnya para guru mengutarakan keinginan itu kepada Kepala Sekolah. Kepala Sekolah pun mengirim surat permohonan ke Ketua DPRD. Alhasil, Selasa itu mereka bisa duduk berhadapan dan berbincang di ruang sidang dengan para wakil rakyat.

Sebanyak 120 siswa itu diterima Ketua DPRD Sri Ruwiyati SE dan Wakil Ketua Najib. Itulah kali pertama gedung dewan dikunjungi siswa sekolah. Karena tegang dan suasana hening, Sri Ruwiyati berujar, ''Jangan takut memasuki gedung DPRD. Kami tak menakutkan dan tak akan marah. Silakan bertanya apa saja yang berkait dengan kami.''

Ajakan itu cukup mengena. Hendys, Ulfa, dan beberapa siswa lain mengacungkan jari. Pertanyaan mengalir dari soal susunan organisasi, perlengkapan DPRD, sampai langkah konkret anggota DPRD untuk mengatasi kemiskinan.

''Kami sebagian besar dari kelas menengah ke bawah. Saya ingin tahu apa langkah yang akan dilakukan DPRD untuk mengatasi hal itu,'' kata Ulfa.

Mulyono, seorang guru yang mengantar mereka, juga menanyakan kesejahteraan PNS kependidikan.Dia menangkap ada pembedaan antara PNS tenaga kependidikan dan nonkependidikan.

"Kenapa PNS kependidikan tak menerima tunjangan Rp 100.000/bulan? Jika itu diganti insentif kelebihan jam mengajar, kenapa tak kunjung dibayarkan? Kenapa pembagian dana JPS pendidikan tidak merata?"

Wakil Ketua DPRD Najib memberikan gambaran kepada Hendys dan teman-teman tentang mental orang Banjarnegara. Mental orang Banjarnegara harus diubah dari ngenger menjadi usahawan. Jika mau merantau atau balajar hidup mandiri, mereka tak akan menjadi pembantu saja dan tak selalu ingin menjadi pegawai negeri. (M Syarif SW-53)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA