| Kamis, 19 Mei 2005 | BANYUMAS |
22 Kecamatan Rawan BencanaPURWOKERTO- Dua puluh dua dari 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas rawan bencana alam. Untuk mengatasi dampak bencana itu perlu manajemen penanggulangan yang baik. Empat dari lima kecamatan tak rawan bencana berada di Purwokerto, sedangkan satu lagi adalah Sokaraja. ''Bencana alam di Banyumas bisa dikelompokkan menjadi empat macam, yakni banjir, longsor, angin ribut, dan kekeringan,'' kata Bupati HM Aris Setiono. Dia mengemukakan hal itu saat membuka pemantauan dan evaluasi pelatihan kesiapan dan tanggap darurat enam kabupaten/kota kerja sama dengan Unicef, kemarin, di aula Bappeda Banyumas. Pelatihan tanggap darurat, sebagaimana dilaporkan Ketua Bappeda Hudi Utami sebagai penanggung jawab, diikuti 18 anggota tim satuan pelaksana penanggulangan bencana dan penanganan pengungsi dari Kabupaten Rembang, Wonosobo, Banjarnegara, Brebes, Banyumas, dan Kota Surakarta. Pelatihan berlangsung pada 17-20 Mei. Aris mengemukakan wilayah yang kerap kebanjiran adalah Sumpiuh dan Tambak. Kedua wilayah itu hampir setiap tahun dilanda banjir, khususnya Desa Nusadadi (Sumpiuh) dan Plangkapan (Tambak). Yang rawan kekeringan adalah wailayah dengan pertanian tadah hujan, yaitu Lumbir dan Gumelar. Rawan longsor meliputi Pekuncen, Gumelar, Lumbir, Somagede, Kemranjen, dan Wangon. ''Bencana angin ribut sulit dideteksi karena berpindah-pindah.'' Bencana alam yang terjadi hampir setiap tahun itu merusak prasarana dan sarana fisik. Sampai saat ini pemerintah masih kesulitan mengatasi semua dampak bencana, seperti kerusakan bangunan SD karena keterbatasan dana. Kesulitan itu juga dialami daerah lain. Rp 4 Miliar Pemerintah Kabupaten Banyumas melalui pos tak tersangka APBD menyiapkan anggaran Rp 2 miliar untuk mengatasi banjir, kekeringan, dan bencana lain pada tahun ini. ''Anggaran itu diusulkan ditambah Rp 2 miliar lagi melalui perubahan APBD. Bila disetujui, total anggaran menjadi Rp 4 miliar.'' Di tengah keminiman anggaran, kata dia, bencana tetap harus ditanggulangi dengan manajemen yang baik. Pemerintah jauh-jauh hari sudah mengantisipasi. Pada musim hujan tim Satuan Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi di Banyumas telah menyiagakan peralatan SAR. Juga berkoordinasi dengan aparat kecamatan agar setiap saat siap menangulangi bencana. Menghadapi musim kemarau, pemerintah menyiapkan bantuan pompa air untuk wilayah yang masih meiliki air, tetapi sulit dialirkan ke sawah. Petani dianjurkan menanam benih yang tak terlalu membutuhkan air pada musim gadu. ''Kami juga menyiapkan mobil tangki untuk menyalurkan air ke desa-desa rawan air bersih pada musim kemarau. Sampai saat ini air bersih masih cukup. Belum ada permintaan bantuan. Beberapa tempat pun masih diguyur turun.'' (G23-53) |