| Kamis, 19 Mei 2005 | BANYUMAS |
Rencana Ternak Babi Cuatkan Pro-KontraPURWOKERTO- Rencana pembangunan peternakan babi di Desa Limpakuwus, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, menimbulkan pro-kontra di kalangan masyarakat. Penolak rencana itu mengirim surat ke Bupati, Ketua DPRD, serta berbagai dinas. Kemarin, Ketua DPRD Suherman bersama anggota Agus L, Anang AK, Amrich HS, Ny Sri Hastuti, dan Bambang P meninjau calon lokasi peternakan. Mereka didampingi staf Dinas Peternakan dan Perikanan, Ir Tjutjun S dan Ir Sugiyanto MM. Mereka disambut Camat Sumbang Bambang Sugiarto SSos dan Kepala Desa Limpakuwus Bambang Suyanto. Hadir wakil warga propeternakan Prapto dan kontrapeternakan Darwo. Namun wakil pengusaha justru tidak hadir. Darwo menyatakan menolak tempat itu dijadikan peternakan babi. Dia khawatir peternakan itu bakal berdampak pada kesehatan karena banyak virus binatang. Di desa itu sudah banyak peternakan yang mengakibatkan banyak lalat. Jika ditambah peternakan babi, dia khawatir lalat kian banyak. Karena itu dia meminta DPRD bijaksana. Upaya mendatangkan investor hendaknya dibarengi perlindungan terhadap hak masyarakat. Dia menyatakan peternak ayam juga khawatir, karena konon virus flu burung datang dari babi. Di desa itu ada 100 peternak. ''Ternak sapi, ayam, atau macan setuju. Namun babi, maaf tidak.'' Perizinan Dia menyoroti pula proses perizinan di desa itu. Semestinya begitu ingin membuat ternak babi, investor segera menyosialisasikan ke semua RT. Jangan hanya warga yang propeternakan itu yang diajak berunding. Seusai menyampaikan aspirasi, Darwo menyatakan menandatangani surat ke Bupati dan Ketua DPRD bersama 570 warga. Jarak calon lokasi peternakan dan rumah terdekat sekitar 100 m. ''Saya usul, pemerintah membuat sentra ternak babi di tempat yang jauh dari permukiman.'' Tokoh agama M Hajir mengatakan, ada beberapa kali pertemuan untuk membahas masalah itu. Namun dia tak pernah diundang. Dalam hukum Islam, peternakan babi dilarang. Orang yang menghalalkan barang yang haram berdosa. Demikian pula mengharamkan yang halal. ''Saya setuju kedatangan orang kaya ke sini, tetapi jangan beternak babi. Jika buka pabrik lebih menyenangkan,'' katanya. Suherman menyatakan mereka belum membahas penyelesaian masalah, karena DPRD baru mengecek laporan. Masalah itu perlu dibahas dalam forum lebih luas yang melibatkan semua komponen masyarakat. Takut Datang Dia menyarankan diadakan dialog antara warga yang pro dan kontra, Camat, Kepala Desa, serta badan perwakilan desa (BPD). ''DPRD hanya diundang,'' katanya. Dia mengimbau semua warga mendukung upaya pemerintah dan DPRD mendatangkan investor untuk membuka lapangan pekerjaan. Sebaik apa pun promosi pemerintah dan DPRD, bila iklim di masyarakat kurang mendukung, investor tentu takut datang. Masyarakat yang sedikit-sedikit demonstrasi dan keamanan yang kurang, kata dia, merupakan contoh yang merugikan investasi. Demonstrasi tidak dilarang. Namun lebih baik masalah diselesaikan melalui perundingan. Dia pun secara prinsip menyetujui usul Darwo tentang sentra ternak babi. Kepala Desa Bambang Suyanto dan Prapto tak bersedia banyak berkomentar. ''Ini untuk menjaga iklim kondusif. Kelak jika sudah ada pertemuan, saya baru menanggapi,'' kata Bambang. (bd-53) |