logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Mei 2005 SALA
Line

UNS Harus Mulai Berpikir Korporat

KENTINGAN - Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo diharapkan Dr Djokosantoso Moeljono segera mengembangkan pola pikir korporat dalam menjalankan tugas-tugasnya melayani masyarakat di bidang pendidikan.

Menurut CEO Center for Organizational Culture Development itu, korporat bukan berarti hanya mengejar keuntungan, namun juga menjadi lembaga yang berbudaya organisasi dan mempunyai keunggulan, baik dalam prestasi maupun dalam mentransformasi diri.

"Jadi mulai hari ini, UNS harus berpikir korporat. Jangan hanya bicara, lho kami kan akan ke BHP (Badan Hukum Pendidikan-Red). Dengan melakukan akulturasi budaya organisasi, selain akan menghasilkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, juga menjadi penentu sukses lembaga itu," kata Djoko saat ceramah dan diskusi di auditorium Kampus UNS, kawasan Kentingan, Solo, belum lama ini.

Forum dengan topik "Paradigma budaya korporat dan leadership sebagai landasan tranformasi budaya organisasi pada universitas" itu, dibuka Rektor Prof Dr dokter HM Syamsulhadi SpKJ. Kegiatan tersebut diikuti jajaran dosen dan karyawan universitas setempat.

Merasa Dihormati

Guna meraih keunggulan, lanjut Djoko, dibutuhkan SDM yang berbudaya. Yakni SDM yang mempunyai nilai-nilai positif, yang dapat dikontribusikan kepada organisasi tempat dia berada.

"Dalam hal itu, perlu dikembangkan budaya bagaimana agar mahasiswa merasa dihormati universitas. Hak-hak mahasiswa itu apa dan kemudahan mendapat pengajaran, sampaikan. Kalau UNS belum mau berubah, bisa ditinggalkan mahasiswa. Sebab, universitas yang dicari adalah yang punya tingkat keunggulan tinggi," paparnya.

Pada beberapa kesempatan, dia menganalogikan universitas yang unggul dengan perusahaan-perusahaan yang berkategori baik.

Mengutip sebuah penelitian selama 10 tahun di 14 perusahaan di Amerika, dia menuturkan, perusahaan tersebut berprestasi karena ditopang budaya korporat yang kuat.

Disebutkan, sebuah perusahaan dengan budaya yang kuat, karyawannya cenderung berbaris mengikuti "penabuh genderang" yang sama. Budaya yang kuat sering dikatakan membantu kinerja bisnis, karena menciptakan suatu tingkatan yang luar biasa pada diri para karyawan.

Selain itu, budaya kuat membantu kinerja, karena memberi struktur dan kontrol yang dibutuhkan tanpa harus bersandar kepada birokrasi formal yang kaku, sehingga dapat menekan tumbuhnya motivasi dan inovasi.

"Nah, kalau budaya-budaya organisasi itu bisa diterapkan di UNS, kenapa tidak. Memang perlu perubahan etos kerja. Selama 29 tahun berdiri, saya yakin UNS sudah punya budaya. Cuma, mungkin budaya itu masih belum teratur dan belum dikemas dengan baik," ujarnya.(D11-42ha)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA