| Selasa, 17 Mei 2005 | SALA |
"Gizi" Tim Sukses dalam Sosialisasi PilkadaOleh: Bramastia SPdGENDERANG perang pemilihan kepala daerah (pilkada) kian bergemuruh. Di Solo, penentuan nomor urut calon wali kota (cawali) dan calon wakil wali kota (cawawali) sudah diplot oleh Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD). Dan kini, setiap calon mencoba meraih simpati agar massa memilihnya saat pencoblosan nanti. Biasanya, para calon tidak bergerak sendiri. Mereka dibantu divisi pemenangan, yang biasa disebut tim aukses. Tim itulah, yang diharapkan akan bisa membantu menyukseskan calon agar menang dalam pilkada. Tentu ada pula harapan lainnya, jika si calon akhirnya terpilih, maka tim sukses pun akan kecipratan sukses pula. Ada beberapa hal yang menarik mengenai sepak terjang tim sukses itu. Pertama berkaitan dengan sosialisasi sang calon. Apabila diperhatikan segala bentuk sepak terjang awal tim sukses, seakan mereka ingin menyaingi KPUD dalam menyosialisasikan pilkada ke masyarakat. Memang, mesti ada perbedaan mendasar antara sosialisasi yang dilakukan tim sukses dengan KPUD. Sosialisasi ala KPUD tidak pernah dibarengi dengan "gizi", sedangkan sosialisasi yang dilakukan tim sukses hampir pasti akan ditopang dengan dana melimpah. Sudah bisa ditebak, harapannya dengan "gizi" itu, sosialisasi akan semakin meresap ke pikiran masyarakat. Kedua, persoalan isu yang digulirkan oleh tim sukses mengenai calon. Tim sukses selalu dituntut kreatif memanfaatkan segala momentum kegiatan di masyarakat, meski saat di lapangan ada kalanya mereka menunjukkan kiprah alami. Ada saatnya kreatif, namun kadang juga tidak kreatif; itu semua dilihat dari perspektif efektif dan tidaknya yang mereka lakukan. Bahkan, sering kali permainan isu ke masyaakat banyak menjiplak dari soundbite (ucapan pamungkas) pada pilpres lalu. Misalnya "Sudah Terbukti-Sudah Teruji", yang dilekatkan kepada calon yang biasanya mantan pejabat yang ingin maju lagi. Sehingga, ditampilkan persoalan yang mudah dimaterialkan. Misalnya soal pembangunan, beasiswa, dan kedekatan dengan rakyat. Keamanan Tim Di lain pihak, sosok yang baru maju selalu memunculkan kata-kata berkonotasi pada perubahan. Itu memang menjadi tren bagi tim sukses untuk mengangkat pamor dan memperoleh dukungan dari berbagai pihak yang tidak puas dengan kebijakan pejabat sebelumnya. Karena, itulah jargon perubahan yang ditonjolkan dan menjadi daya tarik kampanye. Misalnya "Pilihlah pasangan X dan Y untuk Perubahan Kota Solo". Ketiga, persoalan keamanan tim sukses. Diakui atau tidak, menjadi tim sukses berarti memasuki ranah politik praktis, sehingga dalam sepak terjangnya dipastikan bersinggungan dengan pihak lain. Artinya, benturan yang mungkin terjadi pasti menyangkut keamanan tim sukses itu sendiri. Bahkan, sering diwarnai dengan ancaman dan teror dari pihak lain yang merasa tersaingi. Jika hal seperti itu tidak diatasi dengan bijak, maka ujungnya bisa berupa konflik antarpendukung calon. Hal itu terjadi, apabila ada tim sukses melakukan provokasi untuk membuat kekacauan dengan tujuan hasil pilkada tidak diakui dan atau diulang dengan alasan ada kecurangan. Biasanya, mereka memanfaatkan masyarakat yang memang "kurang kerjaan" dan mereka yang tidak sibuk dengan berbagai aktivitas harian. Oleh karena itu, demi keamanan bersama, baik tim sukses maupun masyarakat, alangkah bijak jika tim sukses dan elite politik menjaga diri dan membiasakan bersikap legawa menerima apa pun hasil pilkada. Siapkan diri menerima kekalahan atau kemenangan. Berkaca pada hasil Pemilu 2004, hampir tidak ada masyarakat yang protes atau saling gontok-gontokan. Justru yang membuat konflik adalah tim sukses. Jika dicermati, tugas tim sukses sangat berat. Target kemenangan kandidat kepala daerah, mestinya didukung dengan data dan potensi pemilih. Dalam konteks itulah, tim sukses harus mengedepankan aspek yang realistis berbasis data. Kerja keras tim sukses, tidak hanya sebatas lobi-lobi di kalangan elite parpol dan tokoh masyarakat, namun juga harus melakukan hitung-hitungan realistis atas potensi suara pemilih, agar tidak salah langkah dalam merumuskan strategi. Tim sukses harus bekerja keras menjawab pertanyaan: Benarkah figur yang diangkat populer? Benarkah figur yang didukung layak jual (marketable)? Seberapa besar peluang calon tersebut untuk memenangi pilkada ? Bagimana mengemas, mempertahankan, dan menantang isu-isu yang berkembang ? Media mana yang paling tepat dipilih untuk mengampanyekan calon tersebut, guna untuk membangun citra positif ? Untuk menjawab deretan pertanyaan itu, strategi pemenangan perlu didasarkan kepada data dan fakta di lapangan. Kinerja tim sukses harus dikalkulasi secara sistemais melalui berbagai kegiatan di masyarakat pemilih. Harapannya, agar seluruh masalah dapat diatasi, dan strategi menjadi tepat sasaran serta mampu membentuk keunggulan bagi kandidat untuk bersaing. Artinya, tim sukses perlu memiliki gambaran potensi pemilih berdasarkan pemetaan wilayah (kecamatan, desa/kelurahan), komponen masyarakat (agama, suku, organisasi, pekerjaan), usia pemilih (pemula dan umum), dan data lain sebagai pendukung, seperti prediksi persentase dukungan terhadap calon yang diusung, aspirasi masyarakat yang berkembang, dan popularitas (dalam hal itu persepsi masyarakat terhadap kandidat). Hal tersebut penting, sehingga tim sukses akan memperoleh data meliputi citra calon tersebut, dalam rangka menyusun strategi dan taktik kampanye, membangun dan memperkuat citra serta jaringan di daerah tempat kandidat itu hanya mendapat dukungan suara minoritas. Itulah peran tim sukses, dan tentunya semua berharap semoga benar-benar sukses bagi si calon, bukan sukses bagi timsSukses namun tidak sukses bagi calonnya.(18a) - Penulis alumnus FKIP UNS, Redaktur Pelaksana Majalah Infolab, laboratorium MIPA UNS. |