logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Mei 2005 SALA
Line

Di Balik Studi Tur ke Jerman (2)

Warung Tuk Tuk Milik Pak Wido

NAMATuk Tuk, mungkin terlalu asing, terutama bagi orang Jawa. Namun bagi warga Kepulauan Samosir, nama itu terkenal, karena Tuk Tuk adalah nama salah satu kampung besar di tengah Danau Toba tersebut. Atau malah orang Thailand yang mengenal, karena Tuk Tuk adalah nama kendaraan rakyat di negara itu.

Yang jelas, bagi warga Indonesia yang sedang belajar di Berlin, Jerman, nama tersebut sangat akrab. Sebab, Tuk Tuk adalah warung Indonesia satu-satunya di kota terbesar di bekas Ibu Kota Jerman Timur itu. Untuk mendapatkan makanan berselera khas Indonesia, datanglah ke warung itu.

Tapi jangan heran, meski menggunakan nama Sumatra, warung yang terletak di jalan Grossgorschentr, 2 AM-BHF, Kleistpark 10827 Berlin, itu ternyata kepunyaan Pak Wido, warga Indonesia asli Salatiga.

Dia sudah membuka warung itu sejak 1984. Yang dijual, semuanya khas Indonesia. Bahkan, rasanya pun tidak kalah dengan masakan di restoran-restoran yang ada di Indonesia sendiri. Sebab, bumbu-bumbu seluruhnya didatangkan dari Indonesia, terutama yang tidak ada di Jerman, seperti ketumbar, kemiri, dan terasi.

"Yang khas, memang sambal terasi. Sebab masyarakat Indonesia yang ada di sini, kebanyakan memang kangen dengan sambal itu. Jadi, biar mereka bisa mendapatkan yang diinginkan, kami mendatangkan terasi. Mereka suka sekali dengan sambal itu. Rasanya seperti makan di rumah sendiri," kata Wido, didampingi istrinya.

Namanya memang singkat, Wido. Keluarganya saat ini masih banyak di Jl Belimbing Salatiga. Dia datang ke Berlin sejak 1962, dikirim pemerintah Indonesia untuk belajar di Jerman Timur.

Zaman Orde Lama dulu, memang banyak warga Indonesia yang dikirim ke negeri-negeri di wilayah Eropa Timur, seperti Ceko, Jerman Timur, dan Soviet.

"Saya belajar di Universitas Berlin, tapi kemudian gagal karena kehabisan biaya. Begitu pemerintahan berganti, dana yang dikirim ke sini juga berhenti, sehingga saya malah kalang kabut. Akhirnya, saya memilih bekerja serabutan, agar tetap bisa bertahan hidup di negeri orang. Dan yang paling gampang, adalah bekerja di restoran sebagai pelayan dan tukang masak. Kebetulan, saya sedikit bisa memasak yang enak," kata dia.

Pertama kali bekerja, Wido ditampung di rumah makan milik orang Jerman yang lama berada di Indonesia. Dia sudah memberi nama warung itu, Warung Makan Tuk Tuk.

Seiring dengan waktu, pada 1984 warung itu diteruskan olehnya, setelah pemiliknya meninggal. Warung itu dibeli dan diteruskan, bahkan semakin terkenal, karena memang masakan yang diolah sendiri oleh Wido dan istrinya, sangat enak dan cocok bagi warga Indonesia maupun warga Jerman. Setelah sukses bekerja, sekolah pun akhirnya terlupakan karena kesibukan melayani tamu.

Pas di Lidah

Bupati Karanganyar, Hj Rina Iriani, dan Bupati Sragen, Untung Wiyono, serta rombongan Indonesia yang berada di Jerman, memuji masakan Wido. Memang enak, dan sama dengan masakan di restoran Indonesia.

"Bahkan, sambel terasinya luar biasa. Pedas, enak, dan pas di lidah. Apalagi bagi yang sudah lama tidak menyantap masakan Indonesia, tentu ngangeni sekali," kata mereka.

Rombongan yang diundang GTZ dan Inwent untuk belajar peningkatan ekonomi kewilayahan itu, selama dua minggu makan masakan Eropa saja. Rina, bahkan sempat hampir jatuh sakit karena jarang makan.

Beruntung, masih ada masakan Cina atau Thailand yang rasanya juga hampir sama dengnan masakan Indonesia. Namun begitu ada masakan di warung Tuk Tuk itu, maka rombongan pun memilih bersantap di warung tersebut.

Menu yang disajikan pun sama dengan yang ada di Indonesia. Ada sayur lodeh, tahu campur sunda, tahu dan tempe goreng, ikan balado ala Padang, kerupuk udang, dan sebagainya. Ada lagi minuman teh panas, teh jahe, kopi jahe, dan aneka minuman khas Indonesia lainnya.

"Pokoknya kalau makan di sini, terasa seperti makan di rumah sendiri, di Jawa sana," kata Hadi, staf Kedubes Indonesia di Berlin, yang biasa memesan masakan di warung Wido.

Untuk membuat suasana Indonesia, Wido yang hingga usia 60 tahun lebih itu tidak dikaruniai anak, membuat desain warungnya dengan tambahan gedhek (dinding bambu). Selain itu, gamelan Bali maupun gamelan Jawa diperdengarkan di warung itu, sehingga ketika bersantap, tamu memang serasa berada di Indonesia. "Namanya juga warung Indonesia," jelas dia.

Memang, warga Indonesia yang jumlahnya sekitar 2.000 lebih di Berlin, sangat membantu dirinya. Setiap bulan, dia harus menyewa tempat itu sebesar 4.000 Euro atau sekitar Rp 48 juta. Jumlah yang tidak sedikit, apalagi ditambah dengan empat karyawannya yang juga warga Indonesia. Untungnya, pendapatan yang diperoleh lumayan besar, sehingga berlebih untuk menyewa dan memperoleh keuntungan. "Yah, lumayan, sampai sekarang masih laris," kata dia.(Joko Dwi Hastanto-18a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA