| Selasa, 17 Mei 2005 | PANTURA |
"Pertiwi" yang MembumiOleh: Toto SubandriyoBAGI masyarakat dan jajaran Pemerintah Kabupaten Tegal, terminologi "Pertiwi" bukan hanya berarti tanah kelahiran yang berasal dari terminologi "Ibu Pertiwi". Terminologi "Pertiwi" telah dipilih menjadi jargon pembangunan Pemerintah Kabupaten Tegal yang disesuaikan dengan segenap potensi sumber daya yang ada. Terminologi itu sendiri merupakan akronim dari Pertanian, Industri, dan Pariwisata. Sebagai konsekuensi sebuah pilihan, diharapkan ketiga sektor pembangunan, yaitu pertanian, industri, dan pariwisata, dapat menjadi ujung tombak dan lokomotif penggerak pembangunan sosial ekonomi masyarakat Kabupaten Tegal. Sedangkan sektor-sektor pembangunan lainnya tetap merupakan bagian tak terpisahkan dari cetak biru (blue print) program pembangunan Pemerintah Kabupaten Tegal. Pemilihan sektor pertanian, industri, dan pariwisata, sebagai titik berat pembangunan sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial, budaya, dan sumber daya masyarakat Kabupaten Tegal yang saat ini jumlah penduduknya tak kurang dari 1,4 juta jiwa. Karena kompleksitas permasalahan sangat tinggi, maka tingkat keberhasilannya tidak seketika dapat dinikmati masyarakat secara luas. Permasalahannya akan sangat jauh berbeda jika disandingkan dengan upaya menyulap kota yang luasnya hanya sekian kilometer persegi menjadi keminclong dan moncer. Pusat-pusat perbelanjaan, mal-mal, hotel-hotel, serta berbagai sarana infrastruktur dunia gemerlap (dugem) simbol rezim konsumerisme dan kehidupan hedonistik, dapat dengan mudah dibangun. Daya Beli Namun semua infrastruktur tersebut hanya akan menjadi monumen hantu di tengah kota jika daya beli masyarakat rendah. Daya beli masyarakat yang tinggi, salah satunya ditandai dengan ramainya masyarakat mengunjungi pusat-pusat perbelanjaan, mal-mal, tempat wisata, serta tempat-tempat hiburan lainnya. Daya beli masyarakat yang tinggi seperti itu sekaligus merupakan cerminan dari keberhasilan pelaksanaan program pembangunan di berbagai sektor, termasuk di antaranya sektor pertanian, industri, dan pariwisata. Kabupaten Tegal memang dikaruniai sumber daya alam dan sumber daya manusia yang cukup lengkap dan memadai. Dari kondisi alamnya memiliki keunggulan, karena wilayahnya terbentang dari pesisir pantai hingga dataran tinggi dan pegunungan. Tak banyak kabupaten/kota yang memiliki agro ecological zone (AEZ) dan potensi wilayah beragam seperti yang dipunyai Kabupaten Tegal. Berbagai komoditas pertanian, mulai dari hasil laut, ternak, perkebunan, kehutanan, tanaman pangan dan hortikultura, banyak dihasilkan di Kabupaten Tegal. Ditinjau dari sektor pariwisata, Kabupaten Tegal memunyai hampir semua jenis objek dan aset wisata. Mulai dari wisata bahari, wisata gunung, wisata agro, wisata hutan, hingga wisata budaya. Jika dikelola lebih profesional lagi, objek wisata air panas Guci dapat dikembangkan menjadi wisata konvensi tingkat nasional, karena hawanya yang sejuk dan panoramanya yang indah. Dari kemampuan rekayasa industri, Kabupaten Tegal telah dikenal sebagai "Jepangnya" Indonesia. Keahlian orang-orang Tegal di bidang rancang bangun permesinan dan otomotif tidak perlu diragukan lagi. Laboratorium uji material berteknologi canggih, satu-satunya di Jawa Tengah, telah dibangun dan dimiliki Pemerintah Kabupaten Tegal. Membumi Salah satu tolok ukur keberhasilan atau kinerja sebuah program pembangunan yang sedang dilaksanakan adalah adanya apresiasi dan penghargaan dari lembaga lain yang berwenang memberikan penilaian. Berbagai prestasi telah banyak diukir oleh masyarakat Kabupaten Tegal yang dapat dijadikan indikasi bahwa program "Pertiwi" telah mulai membumi. Berbagai prestasi itu antara lain juara I Pengembangan Padi Hibrida Tingkat Nasional pada tahun 2003, juara I Manajemen Proyek Pembinaan Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan Kecil (P4K) Tingkat Nasional tahun 2004, juara I Tingkat Provinsi Lomba Intensifikasi Jagung Hibrida, dan juara I Tingkat Provinsi Intensifikasi Cabe, serta prestasi-prestasi membanggakan lainnya. Apresiasi dan penghargaan seperti itu bukan lantas membuat kita menepuk dada, berpuas diri, apalagi takabur. Perjalanan masih sangatlah panjang, prestasi seperti itu kita jadikan pemacu semangat untuk berprestasi di bidang lainnya. Apalagi tekad Pemerintah Kabupaten Tegal untuk lebih berpihak pada rakyat kecil seperti petani, nelayan, pengrajin industri, telah bulat. Semua itu perlu disikapi secara arif dan bijaksana oleh masyarakat. Jangan mencari mal, supermarket, dan berbagai fasilitas dugem lain di Slawi, karena keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif daerah memang bukan di sektor itu. Namun, dalam alam demokrasi seperti sekarang ini sah-sah saja orang berkomentar. Kritik dan komentar konstruktif masyarakat, yang tumbuh sebagai representasi dari rasa memiliki (sense of belonging), akan menjadikan elan kita semakin kekar, tekad makin membara. Jangan biarkan pemerintah melangkah sendirian. Mari samakan langkah dan rapatkan barisan untuk membangun Kabupaten Tegal yang mbetahi dan ngangeni. Selamat ulang tahun Ke-404 tanggal 18 Mei 2005, dirgahayu Kabupaten Tegal. (17) Penulis, warga Griya Pangkah Indah, Kabupaten Tegal. |