logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Mei 2005 PANTURA
Line

Penetapan Standar Harga Melati Perlu Keterbukaan

BATANG - Keluhan petani melati di Batang tentang harga yang sering dipermainkan pabrikan (perusahan teh), mendapat tanggapan serius dari Wakil Bupati Drs H Achfa Mahfudz MSi. Untuk mengatasi masalah itu perlu keterbukaan dari petani dan pabrik.

"Sudah saatnya petani dan pabrikan bertemu dalam satu meja sehingga akan tahu berapa kebutuhan melati setiap harinya dan apa yang menjadi keinginan petani. Saya sudah menginstruksikan Subdin Perkebunan untuk menindaklanjuti," ujar Wabup.

Menurut dia, solusi pertama yang harus dilakukan adalah membentuk kelompok tani. Itu dilakukan untuk menjaga keseragaman dan menjamin harga jual.

Dengan demikian, akan mendapat patokan harga atau standardisasi agar harga jual tidak bergantung pada pabrikan ataupun makelar.

Petani diharapkan tidak menjual melatinya kepada satu makelar saja, tapi mencari alternatif pembeli lain sehingga ada persaingan harga. Selain itu, petani juga diimbau untuk tidak menjual secara individual. Ada inovasi untuk membuka jaringan pemasaran baru.

"Itulah pentingnya ada kelompok sehingga harga bisa dikendalikan. Tujuan pembentukan kelompok adalah untuk memperjuangkan nasib petani agar tidak dijajah dalam masalah harga panen."

Dukungan Pabrik

Di sisi lain, pabrikan diharapkan juga ikut memberdayakan petani. Sebab, untuk meningkatkan mutu dan produktivitas, pemerintah perlu dukungan dan peran para pengusaha pabrik teh. Selama ini Pemerintah Kabupaten Batang sudah memberikan bantuan berupa bibit dan pemupukan. "Pemberdayaan melalui pola kemitraan ini akan menguntungkan keduanya. Petani meningkat hasilnya, baik produksi maupun harga, sedangkan pabrikan akan tercukupi pasokan melati."

Dia menambahkan, petani Batang sebenarnya mampu meningkatkan jumlah produksinya apabila jalinan kemitraan itu bisa diwujudkan. Sebab, selain tersedia lahan dan bibit, petani juga sudah siap.

Kepala Dinas Pertanian Ir Sakuwi menambahkan, panen melati itu waktunya terbatas. Pada saat panen seperti komoditas lain, pasti harga turun. Untuk itu, perlu peralatan khusus seperti alat pendingin agar bunga awet dan tidak mekar. "Selain itu, ada pemerataan panenan dengan cara digilir pemetikannya." (ar-37n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA