| Selasa, 17 Mei 2005 | PANTURA |
Kasus Rumah Terbakar di Tirto Pekalongan"Ke Jakarta, Saya Ingin Membuka Restoran ..."SUASANA di sekitar RT 03 RW 01, Gang 1, Kelurahan Tirto, Kecamatan Pekalongan, Kota Pekalongan, siang kemarin nampak ramai, khususnya di depan rumah nomor 72. Terlihat, beberapa warga masyarakat masih berkumpul di depan rumah itu sambil menunggu petugas PLN yang sedang membetulkan aliran di salah satu gardu listrik. Ya, sejak rumah itu terbakar hingga mengakibatkan semua barang yang ada di dalamnya tidak dapat diselamatkan, aliran listrik di sekitar kampung itu tidak berfungsi. Di antara puluhan warga yang berada di reruntuhan rumah yang terbakar itu, terlihat seorang wanita setengah baya sedang hilir-mudik mengawasi barang-barang yang sudah berwarna hitam atau gosong. Jika melihat kebingungan wanita yang bernama Uripah (52) itu, sepertinya tidak mengherankan. Pasalnya, saat rumahnya mengalami kebakaran, dia bersama suaminya, Saridan (62), sedang pergi ke Jakarta untuk menemui anaknya, Pamuji Arsa, yang menjadi marinir. "Belum ada dua hari di Jakarta, ada informasi yang menyatakan rumah saya terbakar," ujar dia didampingi kakak kandungnya, Toharan. Menurut dia, saat diberitahu rumahnya terbakar, yang menjadi pemikirannya adalah keselamatan anak perempuannya, Supriyatiningsih, dan cucunya, Winda Eko, yang masih berusia lima tahun. Sebab, setiap hari mereka berdua selalu berada di rumah itu. "Setelah mengetahui mereka berdua tidak di tempat kejadian saat rumah terbakar, saya merasa lega," papar dia. Buka Restoran Ketika disinggung soal kepergiannya ke Jakarta, Uripah menuturkan, hal itu merupakan keinginan anaknya. Menurut dia, anaknya telah membangun sebuah restoran yang cukup besar di kompleks Pasar Senin. Bahkan, di Jakarta anaknya sudah menyediakan orang untuk membantunya membuka usaha tersebut. Lalu bagaimana langkah selanjutnya, setelah mengetahui rumahnya terbakar? Uripah menjelaskan, niat untuk membuka restoran tetap dilaksanakan, karena dirinya tidak ingin mengecewakan anaknya. Paling tidak, lanjut dia, beberapa hari setelah peristiwa itu terjadi dia akan ke Jakarta. "Rencananya, rumah yang ludes terbakar itu tetap kami bangun," tandas dia. Sementara itu Toharan mengatakan, dari peristiwa tersebut Uripah dan suaminya menderita kerugian sebesar Rp 40 Juta. Jumlah sebesar itu, terdiri atas bangunan rumah dan beberapa barang-barang elektronik yang tidak dapat diselamatkan. Misalnya, televisi, video, tape, dan kulkas yang baru beberapa minggu di beli oleh adiknya. (Moch Achid Nugroho-17a) |