logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 17 Mei 2005 PANTURA
Line

Lumpuh, Darmanto Tak Bisa Sekolah

SUDAH 10 bulan lebih Darmanto (10), tidak berangkat ke sekolah. Siswa kelas IV SD Negeri Wanatirta IV, Kecamatan Paguyangan, Brebes itu, sehari-hari hanya tergeletak di tempat tidur. Sementara, aktivitas penting seperti mandi dan buang air, harus mendapat bantuan dari kedua orang tuanya.

Yatin (27), ayahnya mengatakan, Darmanto tidak dapat menggunakan kedua kakinya secara normal. "Kakinya lemas. Kalau dipakai buat tumpuan tidak kuat," kata buruh tani asal Dukun Cimerek, Desa Wanatirta, Kecamatan Paguyangan itu.

Dikisahkan, kelumpuhan yang menimpa anaknya bermula ketika Darmanto terjatuh sekitar 10 bulan yang lalu. Yatin mengira anaknya hanya terkilir biasa, sehingga keluhan sakit yang dialami Darmanto hanya diobatkan ke seorang pemijat.

Sudah banyak tukang pijat yang dikunjungi, tapi kelumpuhan kaki anaknya masih belum membaik. Gagal menempuh upaya alternatif, Yatin mencoba penanganan medis. Dia membawa anaknya ke Rumah Sakit Umum (RSU) Prof Margono Soekardjo Purwokerto.

Di RS Margono, Darmanto dirawat sekitar dua minggu. "Kata dokter, tulang belakang anak saya retak dan perlu dioperasi," kata Yatin.

Angkat Tangan

Namun, dia angkat tangan. Jangankan membiayai operasi anaknya, membeli beras untuk kebutuhan makan sehari-hari untuk istri dan tiga anaknya saja masih kurang.

Upahnya menjadi buruh cangkul di sawah hanya Rp 5.000/hari. Sedangkan penghasilan istrinya dari bekerja serabutan, tidak dapat diharapkan.

Akhirnya Yatin hanya membawa pulang anaknya. Kini, sulung dari pasangan Yatin (27) dan Sarkem (24) itu, sehari-hari hanya menghabiskan waktu di atas tempat tidur.

Ketika ditemui di rumahnya yang sederhana kemarin petang, bocah berperawakan kurus itu lebih banyak diam. Dia hanya tiduran tengkurap di amben ruang tengah yang beralas tikar anyaman. Sepintas, memang tidak tampak ada kelainan pada tubuhnya. Namun manakala badannya diangkat, kelihatan kedua kakinya bergelantung lemas.

Sarkem berharap anaknya tidak akan menghabiskan hidup di atas pembaringan. "Saya ingin anak saya hidup normal, bisa sekolah seperti orang lain," kata dia. (Suwandono-37)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA